Adalah
syaikh Abdullah Azzam, seorang ulama yang selalu mengaplikasikan ilmunya dengan
amal nyata. Selalu memberikan teladan, cinta pada kebaikan dan benci pada
kemungkaran. Dicintai kawan dan disegani lawan.
Beliaulah
yang menyatukan barisan mujahidin seluruh dunia untuk berkumpul pertama kali di
Afghanistan.
Suatu
saat beliau kedatangan murid-muridnya dan ditanya tentang maksud mastatho’tum.
Lalu beliau mengajak semua muridnya ke lapangan. Di sana beliau menyuruh semua
muridnya agar lari mengelilingi lapangan semampunya.
Maka
larilah semua muridnya tidak terkecuali.
Satu
persatu murid-murid beliau mampu mengitari lapangan. Tetapi giliran mengitari
yang kedua, murid-murid beliau mulai ada yang ngos-ngosan, ada masih bisa bertahan, tetapi juga masih ada yang kuat.
Memasuki
putaran ketiga yang ngos-ngosan makin bertambah. Masuk putaran keempat yang
kuat mulai berkurang jumlahnya.
Namun
ketika semua muridnya sudah tidak ada lagi kuat dan berakhir dengan minggir
semua ke pinggir lapangan, maka giliran syaikh Azzam lari sendirian hingga
mengitari lapangan. Semua muridnya ‘melongo’ melihat syaikhnya lari sendirian.
Padahal syaikh Azzam sendiri berusaha lari seperti anak-anak muda, penuh
energik!
Entah
yang putaran ke berapa, tahu-tahu keringat syaikh mulai bercucuran. Nafasnya
pun mulai tersengal-sengal. Tetapi beliau tetap memaksa lari walau tempo ritme
larinya sudah mulai berkurang. Apalagi ketika wajahnya sudah menunjukkan pucat
pasi.
Maka
para muridnya pun tidak tega melihatnya. Mereka berusaha mencegat syaikh agar
menghentikan larinya. Namun syaikh tetap saja pada pendiriannya, tetap lari
sampai .... tubuhnya terhuyung dan ... pingsan!
Segera
semua muridnya mengangkat syaikh dan dipinggirkan ke pinggir lapangan.
Murid-muridnya bingung, sebab mereka belum mendapatkan jawaban dari makna
MASTATHO’TUM, eee ... malah beliau mengajak lari-lari hingga beliau sendiri
pingsan!
Seelah
siuman, syaikh langsung berkata, “Kalian ingin makna mastatho’tum? Ya itulah
tadi contoh dari mastatho’tum. Kalian semua lari, masing-masing ternyata
berbeda-beda kekuatan larinya. Termasuk saya! Inilah titik maksimal mastatho’tum.
Titik di mana saat kita berusaha semaksimal tenaga sampai Allah sendiri yang
menghentikan perjuangan kita”.
Maka
sudah manakah “mastatho’tum” kita? Saatnya kita berkaca lagi untuk beramal
dengan konsep “mastatho’tum” sesuai yang difahami syaikh yang satu ini.
Wallahu
a’lam.
No comments:
Post a Comment