Wednesday, September 17, 2014

MAKNA: MASTATHO’TUM (SEKEMAMPUAN KALIAN)


Adalah syaikh Abdullah Azzam, seorang ulama yang selalu mengaplikasikan ilmunya dengan amal nyata. Selalu memberikan teladan, cinta pada kebaikan dan benci pada kemungkaran. Dicintai kawan dan disegani lawan.
Beliaulah yang menyatukan barisan mujahidin seluruh dunia untuk berkumpul pertama kali di Afghanistan.
Suatu saat beliau kedatangan murid-muridnya dan ditanya tentang maksud mastatho’tum. Lalu beliau mengajak semua muridnya ke lapangan. Di sana beliau menyuruh semua muridnya agar lari mengelilingi lapangan semampunya.
Maka larilah semua muridnya tidak terkecuali.
Satu persatu murid-murid beliau mampu mengitari lapangan. Tetapi giliran mengitari yang kedua, murid-murid beliau mulai ada yang ngos-ngosan, ada masih bisa bertahan,  tetapi juga masih ada yang kuat.
Memasuki putaran ketiga yang ngos-ngosan makin bertambah. Masuk putaran keempat yang kuat mulai berkurang jumlahnya.
Namun ketika semua muridnya sudah tidak ada lagi kuat dan berakhir dengan minggir semua ke pinggir lapangan, maka giliran syaikh Azzam lari sendirian hingga mengitari lapangan. Semua muridnya ‘melongo’ melihat syaikhnya lari sendirian. Padahal syaikh Azzam sendiri berusaha lari seperti anak-anak muda, penuh energik!
Entah yang putaran ke berapa, tahu-tahu keringat syaikh mulai bercucuran. Nafasnya pun mulai tersengal-sengal. Tetapi beliau tetap memaksa lari walau tempo ritme larinya sudah mulai berkurang. Apalagi ketika wajahnya sudah menunjukkan pucat pasi.
Maka para muridnya pun tidak tega melihatnya. Mereka berusaha mencegat syaikh agar menghentikan larinya. Namun syaikh tetap saja pada pendiriannya, tetap lari sampai .... tubuhnya terhuyung dan ... pingsan!
Segera semua muridnya mengangkat syaikh dan dipinggirkan ke pinggir lapangan. Murid-muridnya bingung, sebab mereka belum mendapatkan jawaban dari makna MASTATHO’TUM, eee ... malah beliau mengajak lari-lari hingga beliau sendiri pingsan!
Seelah siuman, syaikh langsung berkata, “Kalian ingin makna mastatho’tum? Ya itulah tadi contoh dari mastatho’tum. Kalian semua lari, masing-masing ternyata berbeda-beda kekuatan larinya. Termasuk saya! Inilah titik maksimal mastatho’tum. Titik di mana saat kita berusaha semaksimal tenaga sampai Allah sendiri yang menghentikan perjuangan kita”.
Maka sudah manakah “mastatho’tum” kita? Saatnya kita berkaca lagi untuk beramal dengan konsep “mastatho’tum” sesuai yang difahami syaikh yang satu ini.
Wallahu a’lam.

No comments:

Post a Comment