Wednesday, July 29, 2015

BUKAN MUSLIM MUSIMAN


Sebulan sudah Ramadhan menyapa kita dan kini telah pergi meninggalkan muslimin. Sekarang tinggallah harapan semoga pasca Ramadhan ini keimanan muslimin tetap terus terjaga dan  bahkan terus bertambah bukannya malah ikut pergi bersama Ramadhan.
Kalau hal demikian yang terjadi maka musibah namanya. Sebab kita ibaratnya seperti blungkon. Ketika masuk bulan Ramadhan, karena dianggap sebagai bulan suci, maka kita harus berbuat seperti seorang muslim. Pakaian harus menyesuaikan dengan bulan Ramadhan. Harus berpuasa di siang hari dan tarawih di malam hari. Dilarang ghibah, mencela, hubungan suami-istri di siang hari, berkelahi dan seabrek larang lainnya. Bahkan acara-acara televisipun ikut-ikutan menyemarakkan “musim muslim” ini.
Tetapi ketika Ramadhan berlalu maka berlalu pula semua larangan-larangan itu pada kita? Na’udzubillahi min dzalik.
Padahal seharusnya Ramadhan adalah bulan penggemblengan. Jadi selama sebulan penuh kita digembleng agar setiap kita menjadi muslim beneran bukan muslim musiman. Sehingga dengan berlalunya Ramadhan bukan berarti berlalu pula keimanan kita melainkan sejak 1 Syawal itulah kita mulai diuji; benarkah kita mendapatkan keberkahan di bulan Ramadhan kemarin?
Setidaknya ada 2 hal yang menunjukkan kalau kita bukan sebagai muslim musiman:
1.      Sebagaimana sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam: Barangsiapa berpuasa Ramadhan (penuh) lalu diikuti dengan berpuasa enam hari dalam bulan Syawal maka dia seperti berpuasa seumur hidup. (HR. Muslim).
Maknanya bahwa ternyata masih ada amalan rentetan yang berkait dengan bulan Ramadhan agar (semoga) bisa mengamalkan kedua berikut ini:
2.      Amalan-amalan kebaikan selama bulan Ramadhan kemarin akan terus dilestarikan sejak 1 Syawal hingga Ramadhan tahun depan. Juga segala keburukan yang selama Ramadhan kemarin ditinggalkan maka sejak 1 Syawal kemarin juga akan tetap terus dijaga agar tidak melakukan segala hal yang dilarang agama.
Dengan demikian semoga kita benar-benar mendapatkan predikat muttaqin dari Allah Subhaanahu wa Ta’ala. Wallahu a’lam.

Sunday, July 26, 2015

KEBERSIHAN JALANAN


Secara umum semua manusia pasti senang dengan kebersihan. Selain itu kebersihan juga melambangkan keindahan. 
اِنَّ اللهَ يُحِبُّ التَّوّاَبِيْنَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِيْنَ.
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَإِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَإِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَإِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَإِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَإِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَإِنَّ اللَّهَSesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang tobat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri. Qs. Al Baqarah 222.
Maka kebersihan dan kesucian (bersuci) sangat dianjurkan dalam Islam. Di antaranya bahwa setiap orang yang hendak shalat harus suci dari hadats kecil maupun besar. 
Lalu bagaimana dengan keadaan hari ini yang apabila siang hari terik matahari terasa panas hingga menimbulkan debu di jalanan dan polusi udara, terutama menyesakkan hidung.
Sayang, masyarakat hari ini membuat solusinya dengan menyiramkan air comberan yang ada di selokan depan rumahnya ke tengah jalan hingga sedikit tergenang. 
Pernahkah befikir bahwa air (comberan) yang tergenang di jalan itu terkadang apabila terlindas ban (baik sepeda/motor maupun mobil) akan memercikkan ke arah tak menentu hingga terkadang mengenai pakaian seseorang yang tanpa sadar mereka gunakan untuk shalat? Padahal air comberan adalah sisa-sisaa dari mandi, kencing dan bahkan (mungkin juga) BAB orang? Yang tentunya hal itu najis? Lalu bagaimana kalau shalat dengan pakaian yang najis? Adapun bagi orang yang yang tidak tahu bahwa pakaian yang dikenakannya untuk shalat telah terkena najis, maka tidak mengapa. Lalu siapakah yang menanggung dosa seseorang yang tidak tahu kalau pakaiannya najis disebabkan air comberan yang disiramkan ke tengah jalan?
Maka renungkanlah bagi orang-orang yang hendak menyiramkan air comberan ke tengah jalanan. Sebab dosa orang yang tidak tahu ketika shalat bahwa ternyata pakaiannya najis disebabkan air comberan yang disiramkan itu akan ditimpakan kepada orang yang menyiramkan air comberan ke tengah jalanan.
Memang resiko memiliki rumah di pinggir jalan akan mendapatkan debu jalanan, tetapi bukankah tanah dan rumah dipinggir jalan juga mahal harganya biladibandingkan dengan tanah dan rumah di dalam kampung? Renungkanlah!

Tuesday, January 27, 2015

Renungan Hadits

Ali bin Abu Tholib: "Pancinglah rezekimu dengan sedekah".

Thursday, January 8, 2015

Hadits: SIAPAPUN YANG TIDAK BERIMAN PASTI MAUK NERAKA


وَالَّذِى نَفْسِي بِيَدِهِ لاَ يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الاُمَّةِ يَهُوْدِيٌّ وَ لاَ نَصْرَنِيٌّ ثُمَّ يَمُوْتُ وَ لَمْ يُؤْمِنُ بِالَّذِى أُرْسِلْتُ بِهِ اِلاَّ كَانَ مِنْ أَصْحَبِ النَّارِ.
Demi diriku yang berada dalam genggaman-Nya, tidak ada yang mndengar (seruan Islam) seorangpun dari umat ini (baik) Yahudi maupun Nasrani  kemudian mati (tetapi) belum beriman terhadap apa-apa yang diriku diutus (Allah), (maka) tiada lain dia akan menjadi penghuni neraka”. Diriwayatkan Muslim no 153, dari Abu Hurairah radluyallahu ‘anhu.

Sunday, November 9, 2014

AL QUR'AN MENJAWAB


KENAPA AKU DIUJI?
Al Qur’an menjawab;
أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لا يُفْتَنُونَ. وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ
Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta. Qs. Al Ankabuut 1 - 2.
KENAPA AKU TAK MENDAPAT APA YANG AKU INGINKAN?
Al Qur’an menjawab;
كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ
Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. Qs. Al Baqarah 216.

KENAPA UJIAN SEBERAT INI?
Al Qur’an menjawab;
لا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلا وُسْعَهَا ...
Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya....  Qs Al Baqarah 286.
KENAPA FRUSTASI?
Al Qur’an menjawab;
وَلا تَهِنُوا وَلا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الأعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ
Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.  Qs. Ali Imran 139.
BAGAIMANA AKU HARUS MENGHADAPI?
Al Qur’an menjawab;
وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلاةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلا عَلَى الْخَاشِعِينَ
Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) salat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.  Qs. Al Baqarah 45.
APA YANG AKU DAPATKAN?
Al Qur’an menjawab;
إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ ...
Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka.  Qs. At Taubah 111.
KEPADA SIAPA AKU BERHARAP?
Al Qur’an menjawab;
فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُلْ حَسْبِيَ اللَّهُ لا إِلَهَ إِلا هُوَ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ.
Jika mereka berpaling (dari keimanan), maka katakanlah: "Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal dan Dia adalah Tuhan yang memiliki Arasy yang agung".  Qs. At Taubah 129.
AKU TIDAK SANGGUP!!
Al Qur’an menjawab;
يَا بَنِيَّ اذْهَبُوا فَتَحَسَّسُوا مِنْ يُوسُفَ وَأَخِيهِ وَلا تَيْأَسُوا مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِنَّهُ لا يَيْئَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ
Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir". Qs. Yusuf 87.

Friday, October 24, 2014

TAHUN BARU 1436 H


Mungkin kalau tahun baru masehi akan ada banyak acara di berbagai tempat. Bahkan tidak sedikit di tempat-tempat maksiat sudah banyak dibooking. Sebab beberapa tahun yang lalu saja pernah ada teman yang mensurvei, dan ternyata di salah satu kota pelajar; pada jam 20.00 wib di setiap apotik sudah tidak ada lagi ‘sarung pengaman’ alias ludes laris manis terjual.
Lalu di pagi harinya, petugas pantai terkenal di kota itu menemukan seabrek sarung pengaman itu sudah terpakai dan sudah ‘berisi’. Na’udzubillah!
Tapi kalau tahun baru yang tentunya tidak boleh disamakan penyambutannya. Sebab tahun baru Islam ini diilhami oleh hijrahnya Rasulullah dari Makkah ke Madinah. Yaitu perpindahan dari negeri kegelapan ke negeri terang. Dari negeri kafir ke negeri Islam, dari negeri maksiat ke negeri shalih.
Dan yang lebih bermakna adalah bahwa sejak hijrahnya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam ke Madinah inilah awal perubahan dunia. Betapa tidak?
Madinah yang dahulu ‘tidak terlilhat’ dalam peta kini mulai terlihat menonjol. Padahal hanya dalam rentang waktu sepuluh tahun, negara adi kuasa saat itu, Persia dan Romawi, tergerogoti pengaruhnya. Termasuk juga ‘aset jajahannya’.
Selain itu Madinah akhirnya juga menjadi pusat ilmu pengetahuan dan peradaban. Mulai dari ilmu agama hingga ilmu pengetahuan duniawi.
Yang terpenting lagi; dengan Madinah dijadikan  sebagai tempat hijrah (mahjar) inilah akhirnya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam mampu mengoptimalkan dakwah Islamnya. Hingga mampu mencetak generasi yang laur biasa!. Sebab sepeninggal Rasulullah Islam terus merangksek negeri-negeri jajahan Persia dan Romawi dan merubah warna kehidupannya dengan warna Islam.
Tidak hanya itu, pusat kekuasaan Persia pun dilumat habis oleh Islam. Sebagaimana sabda Rsulullah shalallahu ‘alaihi wa salam kepada Suraqah; “Kalau kamu mau masuk Islam niscaya kamu kelak akan memakai mahkota raja Prsia”.
Sungguh benar kabar Allah yang disampaikan Rasulullah kepada para sahabatnya, “Sesungguhnya Allah telah memperlihatkan bumi kepadaku dari Timur ke Barat. Dan semua itu kelak akan kemasukan cahaya Islam”.
Dab benar saja, cahaya Islam itu telah menerangi negeri-negeri Barat. Padahal hingga abad ke-17 Barat suasananya amat sangat gelap gulita sekali.
Tapi sungguh ironi, Islam yang bercahaya ini redup akibat umatnya membaung cahaya ini ke belakang. Sehingga umat saat ini tergagap-gagap terhadap kemajuan zaman.
Oleh karenanya harapannya di tahun baru 1436 H ini umat mualai sadar bahwa kita punya penerang yang lebih terang. Lebih jelas dan lebih meyakinkan serta beradab. Tidak perlu gagap dengan kondisi hari ini. Maka mari umat Islam agar kembali merenungi makna hijrah agar umat Islam mampu menjadi juru penerang dan juru peradaban. Wallahu a’lam.