Tuesday, September 30, 2014

ANJURAN MEMBACA AL QUR'AN


Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam berwasiat kepada Abu Dzar radliyallahu ‘anhu, sabdanya: عَلَيْكَ بِتِلاَوَةِ الْقُرْآنِ فَاِنَّهُ نُوْرٌلَكَ فِى الأَرْضِ وَذَخْرٌلَكَ فِى السَّمَاءِ
Hendaklah engkau selalu membaca Al Qur’an, karena sesungguhnya dia akan menjadi cahaya bagimu di dunia dan menjadi simpanan bagimu di langit (kelak). Diriwayatkan Ibnu Hibban dalam hadits yang panjang, sebagaimana dikutib dalam kitab At Targhib 2/207.

Monday, September 29, 2014

SHIRAT


Abu Said Al Khudri radliyallahu ‘anhu meriwayatkan, “Kami bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah kita melihat Robb kita pada hari kiamat?’. Beliau bersabda, ‘Apakah kalian terhalang melihat matahari dan bulan ketika cuaca cerah?’. Kami menjawab, ‘Tidak’. Beliau pun bersabda, ‘Maka sesungguhnya kalian tidak akan terhalang melihat-Nya ketika itu, kecuali sebagaimana kailan terhalang melihat keduanya,’.
Beliau melanjutkan, ‘Ada penyeru yang menyerukan; Hendaklah setiap kaum menuju apa yang dahulu mereka sembah! Lalu orang-orang yang menyembah salib beranjak bersama salibnya, para penyembah berhala bersama berhala-berhalanya dan para penyembah dewa bersama dewa-dewanya’.
‘Hingga yang tinggal hanyalah orang-orang yang beribadah kepada Allah, baik orang yang taat, yang berbuat maksiat, maupun beberapa yang tertinggal di antara Ahli Kitab. Kemudian didatangkan Jahannam yang dihamparkan seperti fatamorgana.
Ditanyakan kepada orang-orang Yahudi, ‘Apa yang  dahulu kalian sembah?’. Mereka menjawab, ‘Kami dahulu menyembah Uzair, putra Allah’.
Lantas dikatakan (kepada mereka), ‘Kalian telah berdusta. Allah tidak memiliki istri ataupun anak. Lalu apa yang kaian inginkan?’. Mereka menjawab, ‘Kami ingin Engkau memberi kami minum,’. Maka dikatakan (kepada mereka), ‘Minumlah!’. Merekapun beerjatuhan ke dalam Jahannam.
Kemudian ditanyakan kepada orang-orang Nasrani, ‘Apa yang dahulu kalian sembah?’. Mereka menjawab, ‘Kami dahulu menyembah Al Masih, putra Allah’.
Lalu dikatakan (kepada mereka), ‘Kalian telah berdusta. Allah tidak memiliki istri ataupun anak. Lalu apa yang kalian inginkan?’. Mereka menjawab, ‘Kami ingin Engkau memberi kami minum,’. Maka diaktakan (kepada mereka), ‘ Minumlah,’. Merekapun berjatuhan ke dalam Jahannam.
Tinggallah orang-orang yang dahulunya menyembah Allah, baik yang taat maupun yang bermaksiat. Dikatakan kepada mereka, ‘Apa yang menghalangi kailan sedangkan orang-orang telah pergi?’. Mereka menjawab, ‘Kami telah terpisah  dengan mereka, sedangkan kami sangat membutuhkan-Nya hari ini. Sesungguhnya kami telah mendengar penyeru yang menyerukan. Hendaklah setiap kaum menemui apa yang dahulu mereka sembah. Sesungguhnya, kami sedang menunggu Robb kami’.
Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda, ‘Lalu, Al Jabbar (Allah) mendatangi mereka dalam bentuk yang berbeda dengan bentuk yang mereka lihat pertama kali’. Dia berfirman, ‘Aku adalah Robbmu’. Mereka berkata, ‘Engkau Robb kami’. Sementara tidak ada yang dapat berbicara dengan-Nya kecuali para nabi.
Dia pun berfirman, ‘Apakah antara kalian dengan-Nya ada tanda yang kalian ketahui?’. Mereka menjawab, ‘’As Saaq (menghilangkan ketakutan, kengerian). ‘Dia pun menyingkapkan rasa takut dan ngeri. Setiap mukmin pun bersujud kepada-Nya’.
Tinggallah orsng yang dahulunya bersujud kepada Allah karena riya’ (agar dilihat orang) dan sum’ah (agar didengar orang lain), kemudian mereka (mereka yang riya’ dan sum’ah) beranjak untuk sujud, namun kemudian (tulang) punggung mereka menjadi rata (sehingga tidak bisa sujud).
Kemudian didatangkan jembatan lalu diletakkan diantara kedua sisi Jahannam’. Kami bertanya, ‘Wahai Rasulullah, jembatan apa itu?’. Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda, ‘(Jalan) yang licin dan mudah menggelincirkan. Diantaranya terdapat besi-besi pengait yang besar, bergantungan dan berduri. Besi itu memiliki duri pengait yang berada di tempat yang tinggi yang bernama As Sa’daan’.
Orang mukmin akan melewatinya seperti kejapan mata, ada yang seperti kilat, ada yang seperti angin, seperti larinya kuda dan unta yang tercepat; yang berhasil lewat berarti dia telah selamat. Ada yang disambar sehingga bagian tubuhnya robek/terputus, namun dia selamat. Ada juga yang terkait lalu terhempas ke neraka, sehingga orang yang terakhir diantara mereka lewat dengan terseret-seret ...”
Hasbunallah wa ni’mal wakiil, ni’nal maulaa wan ni’man nashiir ...

Friday, September 26, 2014

SEPUTAR SHOUM AROFAH


Tanya: As salaamu ‘alaikum, apakah puasa Arofah itu bertalian dengan orang yang haji (wukuf) atau bertalian dengan tanggal 9 Dzulhijjah? Wassalam. FGT Jakarta.
Jawab: Wa ‘alaikumus salam, Idul Qurban lebih dahulu disyariatkan daripada syariat ibadah haji. Dan sebelum perayaan Idul Adha (yakni tanggal 10) disunnahkan shaum (puasa) yang disebut puasa Arofah. Maka jika dikaitkan dengan wukuf tentu kurang tepat, sebab syariat shaum sunnah itu lebih dahulu dibandingkan dengan syariat haji. Untuk lebih memperdalam saya sarikan tulisan al- ustadz Amin  Saefullah Mukhtar:
WUKUF BUKAN MUQADDAMAH WUJUD
Ada sebagian ulama yang berpendapat bahwa Idul Adha ditetapkan berdasarkan waktu wukuf di Arofah. Dengan perkataan lain wukuf itu sebagai standart penetapan Idul Adha.
Istinbath ini ditetapkan berdasar sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam tentang shaum Arofah dalam hadits Abu Qatadah al- Anshori.
Berdasarkan penamaan shaum ini dengan “shaum yaumu Arofah” maka dapat difahami bahwa shaum Arofah itu waktunya harus bersesuian dengan waktu wukuf di Arofah. Karena  Idul Adha didahului oleh shaum hari Arofah, maka Idul Adha pun ditetapkan berdasarkan wukuf di Arofah itu.
Hemat kami, istinbath demikian tidak tepat dilihat dari beberapa aspek:
1.      Latar belakang penamaan Arofah, Ibnu Abidin menjelaskan: “Arofah adalah ismul yaum (nama hari) dan Arofaat adalah ismul makan (nama tempat”. Hasyiyah Raddil Mukhtar, II/192. Menurut Imam ar-Raghib, al-Baghowi dan al-Kirmani; Arofah adalah nama hari ke-9 dari bulan Dzulhijjah.
Hal tersebut dinamakan Arofah berkaitan dengan peristiwa mimpinya nabi Ibrahim ‘alaihi salam yang diperintahkan untuk menyembelih anaknya. Pada pagi harinya, “Maka dia mengenal/mengetahui bahwa mimpi itu benar-benar (datang) dari Allah. Maka (hari itu) dinamakan hari Arofah.   Hasyiyah al-Bajrumi ‘alal Manhaj, IV/235.

2.      Keterangan di atas menunjukkan bahwa shaum Arofah mulai disyariatkan bersamaan dengan Idul Adha, yaitu tahun ke-2 Hijriyah. Keduanya disyariatkan setelah disyariatkannya shaum Ramadhan dan Idul Fitri pada tahun yang sama.
Adapun ibadah haji (termasuk di dalamnya wukuf  Arofah) mulai disyariatkan pada tahun ke-6 Hijriyah, sebagaimana dinyatakan oleh Jumhur ulama (lihat Fathul Baari, III/442).



Keterangan-keterangan di atas menunjukkan bahwa:
a.       Waktu tasyri’ shaum Arofah dan Idul Adha lebih dahulu daripada tasyri’ wukuf di Arofah.
b.      Wukuf di Arofah bukan muqaddamah wujud shaum Arofah dan Idul Adha. Waalahu a’lam.
Karena itu, penamaan tersebut tidak dapat dijadikan dalil bahwa waktu shaum itu harus bersamaan dengan pelaksanaan wukuf di Arofah.
Untuk mempertegas bahwa waktu shaum itu tidak disyaratkan harus bersamaan wukuf di Arofah, maka kita kaji berdasarkan berdasarkan Tarikh Tasyri’ shaum Arofah dan Idul Adha.
3 Tarikh Tasyri’ shaum Arofah dan Idul Adha:
Dari Anas radliyallahu ‘anhu, ia berkata, ‘Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam datang ke Madinah, dan mereka mempunyai dua hari yang mereka bermain-main pada keduanya pada masa Jahiliyah. Maka beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah telah mengganti keduanya dengan yang lebih baik dari keduanya, yaitu hari Adha dan Hari Fitri”. HR.Ahmad dalam Musnad Imam Ahmad, XXIV/114, no 11568, Abu Daud dalam Sunan Abu Daud III/353, no 959. Redaksi di atas versi Ahmad.
Sehubungan dengan hadits di atas para ulama menerangkan bahwa Id yang pertama disyariatkan adalah Idul Fitri, kemudian Idul Adha. Keduanya disyariatkan pada tahun ke-2 Hijriyah. (Lihat Shubhul A’sya, II/444, Bulughul Amani, juz VI/119, Subulus Salam, I/60).
Dalam hal ini para ulama menerangkan:
Yaum Fitri dari Ramadhan (ditetapkan) sebagai Id bagi semua umat ini tiada lain sebagai isyarat karena banyaknya pembebasan (dari neraka), sebagaimana hari Nahar, yang dia itu Id Akbar, karena banyaknya pembebasan (dari neraka) pada hari Arofah sebelum Idul Adha. Karena tidak ada hari yang dipandang lebih banyak daripada hari itu (Arofah). Lihat, Hasyiyah al-Jumal, VI/203.
Wallahu a’lam.

Wednesday, September 24, 2014

INFO 1 DZULHIJJAH 1435 H


Bismillahir rahmaanir rahiim
Mudir Ma’had ‘Aly an-Nuur Liddirosat Al Islamiyah, Waru, Baki, Sukoharjo, menyatakan:
Meningat ijtima’ yang terjadi pada 29 Dzulqa’dah 1435 H, pukul 13:15 WIB, sehingga umur bulan baru 4 jam 21 menit, umur yang hilal tidak mungkin dapat dilihat menurut kesepakatan para pakar astronomi.
Berdasarkan informasi dari sebagian kaum muslim yang telah melaksanakan ru’yatul hilal di berbagai daerah, bahwa mereka tidak berhasil melihat hilal.
Memutuskan bahwa bulan Dzulqa’dah digenapkan menjadi 30 hari dan bulan Dzulhijjah 1435 H jatuh pada hari Jum’at bertepatan dengan tanggal 26 September 2014.
Ditetapkan pada pukul 19:30 WIB di Sukoharjo, 30 Dzulqa’dah 1435 H.
KH. Imtihan asy-Syafi’i
Mudir Ma’had ‘Aly an-Nuur.

Tambahan saya:
Berdasarkan keputusan ini maka pelaksanaan shoum 9 Dzulhijjah 1435 H jatuh pada hari Sabtu bertepatan dengan tanggal 4 Oktober 2014, dan hari Raya Idul Adha 10 Dzulhijjah 1435 H jatuh pada hari Ahad bertepatan dengan tanggal 5 Oktober 2014.

Lanjutan ... 7. RASULULLAH SHALALLAHU ‘ALAIHI WA SALAM SELALU MENGHIASAI SETIAP PRIBADI MUSLIM DENGAN HIASAN TAKWA


Sungguh betisnya Abdullah bin Mas’ud disisi Allah Ta’ala jauh lebih berat daripada gunung Uhud. Hal itu karena ilmunya Abdullah bin Mas’ud radliyallahu ‘anhu lebih tinggi dibandingkan ilmunya sebagian para sahabat. Bahkan beliau termasuk salah seorang ulamanya sahabat.
Firman Allah Ta’ala;
وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ وَلا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَلا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا
Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas. Qs Al Kahfi 28.
Ayat ini turun berkaiatan dengan enggannya para tokoh Quraisy yang akan disamdingkan dalam satu majlis dengan para mantan budak –pada zaman Jahiliyah-; yaitu Bilal bin Rabbah, Amar bin Yasir, Shuhaib dan Salman Al Farisi.
Diriwayat lain disebutkan bahwa suatu saat Bilal dan Shuhaib berjalan melewati Abu Sufyan. Lalu Bilal –sambil memegang pedangnya- bergumam, “Demi Allah, tidak ada musuh Allah yang bisa selamat bila pedang ini diayunkan”.
Mendengar gumaman Bilal ini Abu Sufyan marah dan melaporkannya pada Abu Bakar Ash Shiddiq. Kemudian Abu Bakar bertanya pada Bilal dan Shuhaib, “Benarkah kalian berkata seperti itu pada tokoh Makkah ini?”.
Maka merekapun melaporkan perihal Bilal cs dengan Abu Sufyan kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam. Maka Rasulpun bertanya, “Wahai Abu bakar, apakah kamu memarahi mereka (para mantan budak)? Apabila engkau memarahi mereka maka Allah pasti marah kepadamu”. Diriwayatkan Muslim dalam Shahihnya.
Sungguh derajat Bilal bin Rabbah dan kawan-kawan (para mantan budak di zaman Jahiliyah, pen) dulunya dihargai dengan sangat murah, namun setelah masuk Islam dan amal shalih mereka terus meningkat maka bila seorang Abu Bakar Ash Shiddiq sekalipun bila memarahinya (gara-gara membela pemuka Makkah) maka Allah akan marah terhadap Abu Bakar Ash Shiddiq ..... Itulah maqom Bilal yang telah menghiasi dirinya dengan takwa.
Pada zaman Umar bin Khaththab radlliyallahu ‘anhu menjadi khalifah, suatu saat baitul maal kelebihan rezeki. Maka Umar memutuskan untuk memberi kaum muslim satu potong kain satu orang. Tetapi Umar memberi Usamah bin Zaid jatah kainnya lebih banyak dibandingkan dengan Abdullah bin Umar, putranya sendiri.
Abdullah bin Umarpun betanya, “Wahai bapakku, kenapa Usmah lebih banyak mendapatkan jatahnya daripada saya (yang anaknya seorang kholifah, pen)?”.
Umar menjawab, “Ketahuilah bahwa bapaknya –Zaid bin Haritsah- lebih mencintai Rasulullah  daripada bapakmu. AnaknyaUsamah bin Zaid  juga lebih mencintai Rasulullah daripada dirimu”.
Inilah timbangan (takwa) yang selalu diwariskan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam pada para sahabatnya.
Wallahu a’lam.