Sungguh
betisnya Abdullah bin Mas’ud disisi Allah Ta’ala jauh lebih berat daripada
gunung Uhud. Hal itu karena ilmunya Abdullah bin Mas’ud radliyallahu ‘anhu
lebih tinggi dibandingkan ilmunya sebagian para sahabat. Bahkan beliau termasuk
salah seorang ulamanya sahabat.
Firman
Allah Ta’ala;
وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ
رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ وَلا تَعْدُ عَيْنَاكَ
عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَلا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا
قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا
Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru
Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridaan-Nya; dan janganlah
kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan
dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan
dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu
melewati batas. Qs
Al Kahfi 28.
Ayat ini turun berkaiatan dengan enggannya para tokoh Quraisy yang
akan disamdingkan dalam satu majlis dengan para mantan budak –pada zaman
Jahiliyah-; yaitu Bilal bin Rabbah, Amar bin Yasir, Shuhaib dan Salman Al
Farisi.
Diriwayat lain disebutkan bahwa suatu saat Bilal dan Shuhaib berjalan
melewati Abu Sufyan. Lalu Bilal –sambil memegang pedangnya- bergumam, “Demi
Allah, tidak ada musuh Allah yang bisa selamat bila pedang ini diayunkan”.
Mendengar gumaman Bilal ini Abu Sufyan marah dan melaporkannya
pada Abu Bakar Ash Shiddiq. Kemudian Abu Bakar bertanya pada Bilal dan Shuhaib,
“Benarkah kalian berkata seperti itu pada tokoh Makkah ini?”.
Maka merekapun melaporkan perihal Bilal cs dengan Abu Sufyan
kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam. Maka Rasulpun bertanya, “Wahai
Abu bakar, apakah kamu memarahi mereka (para mantan budak)? Apabila engkau
memarahi mereka maka Allah pasti marah kepadamu”. Diriwayatkan Muslim dalam
Shahihnya.
Sungguh derajat Bilal bin Rabbah dan kawan-kawan (para mantan budak
di zaman Jahiliyah, pen) dulunya dihargai dengan sangat murah, namun setelah
masuk Islam dan amal shalih mereka terus meningkat maka bila seorang Abu Bakar
Ash Shiddiq sekalipun bila memarahinya (gara-gara membela pemuka Makkah) maka
Allah akan marah terhadap Abu Bakar Ash Shiddiq ..... Itulah maqom Bilal yang
telah menghiasi dirinya dengan takwa.
Pada zaman Umar bin Khaththab radlliyallahu ‘anhu menjadi
khalifah, suatu saat baitul maal kelebihan rezeki. Maka Umar memutuskan untuk
memberi kaum muslim satu potong kain satu orang. Tetapi Umar memberi Usamah bin
Zaid jatah kainnya lebih banyak dibandingkan dengan Abdullah bin Umar, putranya
sendiri.
Abdullah bin Umarpun betanya, “Wahai bapakku, kenapa Usmah lebih
banyak mendapatkan jatahnya daripada saya (yang anaknya seorang kholifah, pen)?”.
Umar menjawab, “Ketahuilah bahwa bapaknya –Zaid bin Haritsah-
lebih mencintai Rasulullah daripada
bapakmu. AnaknyaUsamah bin Zaid juga lebih
mencintai Rasulullah daripada dirimu”.
Inilah timbangan (takwa) yang selalu diwariskan Rasulullah
shalallahu ‘alaihi wa salam pada para sahabatnya.
Wallahu a’lam.
No comments:
Post a Comment