Sunday, September 14, 2014

KISAH JANDA MUDA SURIAH


Biasanya pasangan pengantin baru akan melalui hari-harinya dengan penuh keindahan dan kesenangan, serta tidak sedikit dari mereka yang pergi ke tempat rekreasi untuk berbulan madu. Namun hal itu tidak berlaku bagi pengantin baru di Suriah.
Tidak ada kata bersantai-santai atau bercumbu mesra seharian dengan pasangan. Tetapi sang istri harus menyiapkan peralatan perang untuk suaminya.
Inilah kurang lebih yang diceritakan Fathi At Tamimi, relawan Indonesia untuk Suriah yang saat ini berada di Turki dalam status Facebooknya pada Rabu, 22-08-2014.
Dia menuturkan, perempuan 20 tahun hafal Al Qur’an itu dengan berlinang air mata menjahit sendiri baju tempur suaminya yang baru menikahinya dua minggu saat pertempuran pertama memanggil para patriot membela agama. Kemudian mengenakannya pada suatu malam yang diisi satu doa yang dibaca agak keras berulang-ulang saat sujud panjang, “Bila suamiku adalah milik para bidadari-Mu, maka jangan kembalikan dia padaku. Bariskan sebanyak mungkin mereka di pintu langit untuk menjemputnya. Tapi bila berjodoh sampai lama, jangan Engkau biarkan sebuah lubangpun pada pakaian ini. Aku akan bergembira apapun keputusan-Mu. Dan jadikanlah dia pendampingku di dunia dan di surga-MU”.
Sang suami yang mengintip adegan tersebut lalu bertempur bagai singa terluka. Tiga tank dia hancurkan sendirian. Dia maju paling depan dan kembali paling belakang.Belum pernah punggungnya dilihat musuh. Melegenda diantara kawan dan lawan, dibakar doa dan kepasrahan sang istri tercinta.
Di saat yang sama, sang istri bekerja keras membantu para korban perang, menghibur mereka dan menjamin sandang, pangan dan papan, merawat luka, mendoakan para pejuang, menjadi pemimpin group relawan yang terdiri dari keluarga mujahidin atau yang ditinggalkan.
Ketika akhir para bidadari surga menjemput di pintu langit, para komandan group seluruh Suriah bahkan yang bermarkas di gunung-gunung datang atau mengirim utusan untuk berbela sungkawa sambil mengatakan, “Suamimu, Abu Umar, adalah pahlawan dan kebanggaan kami. Semoga akan banyak lainnya di negeri ini”.
Ketika banyak orang kaya di negara Arab mendengar kisah beliau, mereka berlomba melamarnya. Tetapi beliau enggan menerima dan membaktikan hidupnya untuk rakyat, berjanji tidak akan menikah lagi hingga Suriah bebas dari rezim syi’ah.
Perempuan itu namanya perlahan mulai berkibar. Menjadi contoh ketabahan para gadis lainnya dan sekarang dijuluki Ummus Suri, ibunya Suriah. Namanya Ahlam Al ‘Aini dari Homs.
Kisah ini dikisahkan langsung oleh salah satu korban perang yang sempat dirawat oleh beliau  di Rumah Sakit Lapangan (RSL) di Homs dan sekarang berada di kamp pengungsian di Turki.

No comments:

Post a Comment