Biasanya pasangan pengantin baru akan melalui hari-harinya
dengan penuh keindahan dan kesenangan, serta tidak sedikit dari mereka yang
pergi ke tempat rekreasi untuk berbulan madu. Namun hal itu tidak berlaku bagi
pengantin baru di Suriah.
Tidak ada kata bersantai-santai atau bercumbu mesra seharian
dengan pasangan. Tetapi sang istri harus menyiapkan peralatan perang untuk
suaminya.
Inilah kurang lebih yang diceritakan Fathi At Tamimi,
relawan Indonesia untuk Suriah yang saat ini berada di Turki dalam status
Facebooknya pada Rabu, 22-08-2014.
Dia menuturkan, perempuan 20 tahun hafal Al Qur’an itu
dengan berlinang air mata menjahit sendiri baju tempur suaminya yang baru
menikahinya dua minggu saat pertempuran pertama memanggil para patriot membela
agama. Kemudian mengenakannya pada suatu malam yang diisi satu doa yang dibaca
agak keras berulang-ulang saat sujud panjang, “Bila suamiku adalah milik para
bidadari-Mu, maka jangan kembalikan dia padaku. Bariskan sebanyak mungkin
mereka di pintu langit untuk menjemputnya. Tapi bila berjodoh sampai lama,
jangan Engkau biarkan sebuah lubangpun pada pakaian ini. Aku akan bergembira
apapun keputusan-Mu. Dan jadikanlah dia pendampingku di dunia dan di surga-MU”.
Sang suami yang mengintip adegan tersebut lalu bertempur
bagai singa terluka. Tiga tank dia hancurkan sendirian. Dia maju paling depan
dan kembali paling belakang.Belum pernah punggungnya dilihat musuh. Melegenda
diantara kawan dan lawan, dibakar doa dan kepasrahan sang istri tercinta.
Di saat yang sama, sang istri bekerja keras membantu para
korban perang, menghibur mereka dan menjamin sandang, pangan dan papan, merawat
luka, mendoakan para pejuang, menjadi pemimpin group relawan yang terdiri dari
keluarga mujahidin atau yang ditinggalkan.
Ketika akhir para bidadari surga menjemput di pintu langit,
para komandan group seluruh Suriah bahkan yang bermarkas di gunung-gunung
datang atau mengirim utusan untuk berbela sungkawa sambil mengatakan, “Suamimu,
Abu Umar, adalah pahlawan dan kebanggaan kami. Semoga akan banyak lainnya di
negeri ini”.
Ketika banyak orang kaya di negara Arab mendengar kisah
beliau, mereka berlomba melamarnya. Tetapi beliau enggan menerima dan
membaktikan hidupnya untuk rakyat, berjanji tidak akan menikah lagi hingga
Suriah bebas dari rezim syi’ah.
Perempuan itu namanya perlahan mulai berkibar. Menjadi
contoh ketabahan para gadis lainnya dan sekarang dijuluki Ummus Suri, ibunya
Suriah. Namanya Ahlam Al ‘Aini dari Homs.
Kisah ini dikisahkan langsung oleh salah satu korban perang
yang sempat dirawat oleh beliau di Rumah
Sakit Lapangan (RSL) di Homs dan sekarang berada di kamp pengungsian di Turki.
No comments:
Post a Comment