Sunday, September 14, 2014

IBUKU PEMBOHONG


Sukar untuk orang lain percaya tapi itulah yang terjadi. Ibu saya memang seorang pembohong! Sepanjang ingatan saya sekurang-kurangnya delapan kali ibu membohongi saya.
Saya perlu catatkan segala pembohongan itu untuk dijadikan renungan anda sekalian.
KEBOHONGAN PERTAMA
Cerita ini bermula ketika saya maasih kecil. Saya lahir sebagai seorang anak laki-laki dalam sebuah keluarga sederhana. Makan minum serba kekurangan. Kami sering kelaparan.
Adakalanya selama beberapa hari kami terpaksa makan ikan asin satu keluarga. Sebagai anak yang masih kecil, saya sering merajuk. Saya menagis, ingin nasi dan lauk yang banyak. Tapi ibu pandai berbohong. Ketika makan, ibu sering membagikan nasinya untuk saya. Sambil memindahkan nasi ke mangkuk saya, ibu berkata, “Makanlah nak. Ibu tidak lapar”.
PEMBOHONGAN KEDUA
Ketika saya mulai besar, ibu yang gigih sering meluangkan waktu senggangnya untuk pergi memancing di sungai sebelah rumah. Ibu berharap dari hasil pancingan itu dapat memberikan sedikit makanan untuk membesarkan kami.
Pulang dari memancing, ibu memasak ikan  segar yang mengundang selera. Sewaktu saya memakan ikan itu, ibu duduk di samping kami. Dan memakan sisa daging ikan yang masih menempel di tulang bekas sisa ikan yang saya makan tadi.
 Saya sedih melihat ibu seperti itu. Hati saya tersentuh lalu memberikan ikan yang belum saya makan kepada ibu. Tetapi ibu dengan cepat menolaknya. Ibu berkata, “Makanlah nak, ibu tak suka makan ikan”.
KEBOHONGAN KETIGA
Di awal remaja saya masuk sekolah menengah. Ibu biasa membuat kue untuk dijual sebagai tambahan uang saku saya dan abang.
Pada suatu saat, pada dini hari lebih kurang pukul 01.30 pagi saya terjaga dari tidur. Saya melihat ibu membuat kue dengan ditemani lilin dihadapannya. Beberapa kali saya melihat ibu terangguk-angguk karena kantuk. Saya berkata, “Bu, tidurlah, esok pagi ibu kan ke kebun pula”. Ibu tersenyum berkata, “Cepat tidurlah nak, ibu belum ngantuk”.
KEBOHONGAN KEEMPAT
Di akhir masa ujian sekolah saya, ibu tidak pergi berjualan kue seperti biasanya supaya dapat menemani saya pergi ke sekolah untuk turut mnyemangatinya.
Ketika hari sudah siang, terik  panas matahari mulai menyinari, ibu terus bersabar menunggu saya di luar.Ibu seringkali saja tersenyum dan mulutnya komat-kamit berdoa kepada Ilahi agar saya lulus ujian dengan cemerlang.
Ketika lonceng berbunyi menandakan ujian sudah usai, ibu dengan segera menyambut saya dan menuangkan kopi yang sudah disiapkan dalam botol yang dibawanya. Kopi yang kental itu tidak dapat dabandingkan dengan kasih  sayang ibu yang jauh lebih kental. Melihat tubuh ibu yang dibasahi peluh, saya segera memberikan cawan saya itu kepada ibuan menyuruhnya minum. Tapi ibu cepat-cepat menolaknya seraya berkata, “minumlah nak, ibu tidak haus!”.
KEBOHONGAN IBU KE LIMA
Setelah ayah meninggal karena sakit, selepas saya baru beberapa bulan dilahirkan, ibulah yang mengambil tugas sebagai ayah kepada kammi sekeluarga.
Ibu bekerja memetik cengkeh di kebun, membuat sapu lidi dan menjual kue-kue agar kami tidak kelaparan.
Tapi apalah daya seorang ibu. Kehidupan keluarga kami semakin susah dan susah. Melihat keadaan keluarga yang semakin parah, seorang tetangga yang baik hati dan bersebelahan dengan kami, datang untuk membantu ibu.
Aneh, ibu menolak bantuan itu. Para tetangga seringkali menasehati ibu supaya menikah lagi agar ada seorang lelaki yang menjaga dan mencarikan nafkah untuk kami sekeluarga. Tetapi ibu yang keras hatinya tidak mengindahkan nasehat mereka.  Ibu berkata, “Saya tidak perlu cinta dan Saya tidak perlu laki-laki”.
KEBOHONGAN IBU KEENAM
Setelah kakak-kakak saya tamat sekolah dan mulai bekerja, ibu pun sudah tua. Kakak-kakak saya menyuruh ibu supaya istirahat saja di rumah. Tidak lagi susah payah mencari uang. Tetapi ibu tidak mau. Ibu rela pergi ke  pasar setiap pagi menjual sedikit sayur untuk keperluan hidupnya.
Kakak dan abang saya yang bekerja jauh besar sering emngirimkan uang untuk membantu memenuhi keperluan ibu, pun begitu ibu tetap berkeras tidak mau uang tersebut. Malah ibu menigirim balik uang itu, dan ibu berkata, “Jangan susah-susah, ibu masih ada uang”.
KEBOHONGAN IBU KE TUJUH
Setelah lulus kuliah, saya melanjutkan untuk mengejar gelar S 2 di luar negeri. Kebetulan kebutuhan saya di sana dibiayai sepenuhnya oleh seuah perusahaan besar.
Gelar S2 itu saya selesaikan dengan cemerlang. Kemudian aya pun bekerja di perusahaan yang telah membiayai sekolah saya di luar negeri.
Dengan gaji yang agak lumayan, saya berniat membawa ibu untuk menikmati penghujung hidupnya bersama saya di luar negeri. Karena menurut hemat saya, ibu sudah puas bersusah payah untuk kami. Hampir seluruh hidupnya habis dengan penderitaan. Maka pantaslah kalau hari-hari tuanya ibu habiskan dengan keceriaan dan keindahan pula.
Tetapi ibu yang baik hati itu menolak ajakan saya. Ibu tidak mau menyusahkan anaknya ini dengan berkata, “tidak usahlah nak, ibu tidak bisa tinggal di negara orang”.
KEBOHONGAN IBU KE DELAPAN
Beberapa tahun berlalu, ibu semakin tua. Suatu malamsaya menerima berita bahwa ibu terserang penyakit kanker di leher, yang akarnya telah menjalar ke mana-mana.Ibu mesti dioperasi secepat mungkin.
Saya yang ketika itu berada jauh di seberang samudera segera pulang untuk menjenguk ibunda tercinta.
Saya melihat ibu terbaring lemah di rumah sakit  setelah menjalani menjalani pembedahan. Ibu yang sangat tua menatap wajah saya dengan penuh kerinduan.
Ibu menghadiahkan saya senyuman biarpun agak kaku karena terpaksa menahan sakit yang menjalari setiap inci tubuhnya. Saya dapat melihat dengan jelas betapa kejamnya penyakit itu telah menggerogoti tubuh ibu. Sehingga ibu menjadi terlalu lemahdan kurus. Saya menatap wajah ibu sambil berlinangan airmata. Saya cium tangan ibu kemudian saya kecup pula pipi dan dahinya.
Di saat itu hati saya terlalu pedih. Sakit sekali melihat ibu dalam keadaan seperti itu. Tetapi ibu tetap tersenyum dan berkata, “Jangan menangis nak, ibu tidak sakit ...”

Setelah mengucapkan pembohongan kedelapan itu tidak lama kemudian ibunda tercinta menutup mata untuk terakhir kalinya.

No comments:

Post a Comment