Tuesday, September 16, 2014

3. Dalam membina umat, lebih mengutamakan (pembinaan) pada aqidah sebelum penekanan yang bersifat syar’i.


Selama tiga belas tahun ketika di Makkah, seluruh Al Qur’an lebih secara umum menerangkan berkaitan tentang La ilaaha ILLAAH. Di sana aqidah Laa ilaaha ILLAAH ditanamkan hingga benar-benar menghunjam ke dalam hati. Sebab agama ini dibangun di atas pondasi laa ilaaha ILLAAH. Setiap syariat, hukum dan perkara lainnya dibangun di atas kaedah uluhiyah.
Sungguh agama ini ibarat pohon; akarnya kokoh menghunjam jauh ke dalam bumi sedangkan dahannya rimbun menjulang ke langit. Adapun akar yang menghunjam jauh ke dalam bumi adalah iman yang menhunjam jauh ke dalam hati dan lubuk sanubari.
Ini lebih penting daripada manusia diberi berbagai macam ilmu; tata negara, ekonomi, politik dan sebagainya. Sebab walaupun ilmu-ilmu itu diberikan tetapi aqidah tidak menancap kuat dan dalam di hati dan sanubarinya maka tatkala mereka diserukan untuk menerima Islam secara kaffah; niscaya akan ditolaknya. Beribu dalil dan alasan mereka tunjukkan agar syariat Allah tidak bisa tegak di bumi.
Tetapi bila aqidah dahulu yang pertama kali diutamakan dalam pembinaan dengan disertai penekanan syariah maka proses pembinaan akan terus berjalan sesuai harapan. Hal itu bisa dilihat dari beberapa contoh sejarah yang terjadi pada zaman Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam dan para sahabatnya, berikut ini diantaranya:
1.      Kisah awal turunnya jilbab.
Seperti hari-hari biasa, setiap pagi para wanita sahabiyah beraktifitas di rumah dan sekitar atau belanja ke pasar. Namun ketika ada seorang sahabat yang memberitahukan secara umum tentang turunnya ayat berkaitan dengan hijab maka serta merta mereka merubah tampilan.
Sahabiyah yang sedang di pasar membeli keperluan rumah tangga mendadak membatalkan belanjaannya dan langsung membeli kain untuk menutup kepala hingga ke dadanya.
Ketika sampai di rumah sang suami kaget karena yang dibeli keperluan rumah tangga melainkan kain untuk menutupi kepalanya. Tapi setelah sang istri memberitahukan perihal turunnya ayat hijab maka sang suamipun langsung ridlo dengan ketetapan Allah dan hari itu mereka makan ala kadarnya karena keuangannya dipakai untuk membeli kain.
Di sisi lain, seorang suami kaget lantaran kordennya dilepas dan dipakai istrinya untuk menutupi kepalanya. Tatkala ditanyakan perihal kain kordennya yang dipakai untuk menutupi kepalanya, maka sang istri menjelaskan bahwa ayat hijab telah turun hari itu. Lalu sang suamipun langsung ridlo atas ketetapan Allah.
Di lai pihak ada juga taplak mejanya dipakai untuk hijab!
Ayat hijab itu adalah:
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُل لِّأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاء الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِن جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَن يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُوراً رَّحِيماً
Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang. Qs. Al Ahzab 59.
2.      Perintah Hijrah
Ketika dakwah Islam dan para pemeluknya sudah tidak bisa lagi bertahan di Makkah maka Allah memerintahkan muslimin agar hijrah meninggalkan Makkah (tanah kelahirannya) menuju Madinah.
Maka berangkatlah muslimin ke Madinah secara sendiri-sendiri dan bergerombol. Semuanya dilakukan secara sembunyi-sembunyi takut kalau ketahuan musyrikin Quraisy akan dihalang-halangi.
Padahal mereka sama sekali belum tahu pernah sebelumnya tentang Madinah. Mereka juga tidak punya sanak keluarga di sana. Namun mereka melaksanakannya dengan sungguh-sungguh.
Duhai kalau sekiranya bukan aqidah dulu yang diterapkan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam dalam pembinaannya tentu mereka akan melakukan tawar menawar dulu pada aplikasi lapangannya. Betapa tidak? Sebab mereka harus rela tidak makan hari itu tatkala ayat hijab turun hingga keuangan yang seharusnya dibelanjakan untuk keperluan rumah tangga (dapur/komsumsi) saat itu juga dialihkan untuk membeli kain penutup aurat.
Juga muslimin Makkah akan menawar, seandainya boleh mereka (mungkin) akan melakukan penjajakan dahulu sebelum hijrah ke Madinah. Atau bahkan akan menolak, sebab mereka belum mengetahui Madinah sebelumnya.
Inilah kekuatan aqidah! Suatu kekuatan yang jauh melebihi kekuatan apapun.Wallahu a’lam.

No comments:

Post a Comment