Berbicara
masalah kebenaran agama Islam terkadang memerlukan sisi-sisi perasaan, namun
bukan berarti bahwa dalam Islam kebenaran haruslah dijunjung/dilihat dari sisi
perasaan. Melainkan kebenaran Islam dilihat dari sisi dalil syar’i; baik dari
Al Qur’an maupun As Sunnah.
Setelah
itu juga perlu melihat dari cara pandang para sahabat Rasulullah shalallahu
‘alaihi wa salam. Bila belum menemukannya maka baru melihat generasi bawahnya;
tabi’in. Sebab hanya merekalah yang mampu memahami kebenaran Islam sesuai
dengan yang kehendaki Allah dan Rasul-Nya. Sabda Rasul: “Sebaik-baik generasi
adalah generasiku, kemudian (generasi) berikutnya, kemudian (generasi)
berikutnya”. HR. Bukhori. Lihat Shahihul Jami’ As Shoghir 3294.
Dalam
ayat-Nya Allah Ta’ala berfirman:
كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ
لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ
تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لا
تَعْلَمُونَ
Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah
sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik
bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk
bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. Qs. Al Baqoroh 216.
Itu baru dalil syar’i yang kita mungkin ‘masih’ kurang
menerimanya, na’udzubillah. Tapi coba perhatikan; pernahkah kita bepergian ke
suatu tempat yang jauh dan asing bagi kita. Lalu ketika hendak sholat di
masjid, ternyata didapati bahwa menurut perasaan kita, kita menghadap yang
tidak semestinya? Walaupun kita dalam posisi sholat berjamaah bersama kaum
setempat?
Coba bila kemudian kita tetap bersikukuh menghadap kiblat yang
sesuai dengan perasaan kita maka tentu akan lain jadinya.
Jadi agama Islam bukanlah agama perasaan melainkan agama yang
datang dari Allah, yang kebenarannya datang dari Allah Ta’ala semata. Walaupun
terkadang sesuai dengan perasaan namun juga terkadang tidak sesuai dengan
perasaan. Wallahu a’lam.
No comments:
Post a Comment