Friday, September 12, 2014

(lanjutan) PENDIDIKAN RASUL PADA PARA SAHABAT


Edisi kemarin disebutkan bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam sangat marah tatkala melihat Umar bin Kaththab membawa shahifah Taurat. Padahal sudah diketahui bersama bahwa Taurat adalah salah satu kitab Allah. Juga salah satu kitab Allah yang harus diiamani muslimin. Lalu kenapa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam marah?
Jawabannya adalah bahwa Rasulullah hanya ingin fokus pembinaan dan pendidikannya hanya padanya saja, tidak ada campuran lainnya. Apalagi dengan tambahan referensi dari lainnya yang non samawi. Maka amburadullah agama ini dan tentu tidak akan seperti hari ini kita mengenal para sahabat.
Yaitu suatu generasi yang jiwanya di bumi namun namanya begitu terkenal oleh penduduk langit. Suatu person yang dulunya tidak diperhitungkan namun dalam waktu singkat mampu menguasai dan merubah dunia dengan prinsip-prinsip yang mereka pegang (AlQur’an dan As Sunnah).
Hal itu tentu berkaitan  dengan prinsip kedua pada pendidikan dan pembinaan Rasulullah.
2. Konsep dakwahnya; menghindari ‘manfaat keduniaan’ dan (menhindari pula) ingin segera meraih sukses.
Hal ini sudah Allah abadikan dalam Qs. Asy Syu’ara’
وَمَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ إِنْ أَجْرِيَ إِلا عَلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ
Dan sekali-kali aku tidak minta upah kepadamu atas ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam.
Ayat di atas menceritakan bahwa seluruh para nabi dakwah benar-benar tidak mengharapkan upah keduniaan dan ingin segera meraih sukses. Melainkan mereka benar-benar menyampaikan risalah Islam sampai sedetail-detailnya kepada umat dengan tanpa mengharapkan hasil dunia. Mereka hanya mengharapkan upah dari Allah Ta’ala saja. Memang hanya nabi Nuh, Hud, Sholih dan Syu’aib saja yang Allah abadikan dalam surat Asy Syu’ara itu, tetapi pada prinsipnya bahwa seluruh nabi  dan rasul juga sama.
Sungguh Rasulullah sudah menancapkan prinsip ini pada diri para sahabatnya. Sehingga ketika konsekwensi iman membutuhkan pembuktian, maka dengan serta merta para  sahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam memperagakannya. Lihat saja contoh kisah berikut ini:
a.       Keluarga Yasir.
Ketika musyrikin mulai gerah dengan dakwah Islam yang dibawakan Rasulullah, maka mereka langsung mengkap dan menyiksa para pengikutnya. Diantaranya adalah Yasir beserta anak dan istrinya.
Di saat penyiksaan mencapai puncak saat itulah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam datang dan hanya bersabda: “Bersabarlah wahai keluarga Yasir. Sesungguhnya kalian telah dijanjikan surga”.
b.      Infak jelang perang Tabuk.
Ketika Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam mendapat info bahwa pasukan Romawi hendak menginvasi Madinah maka Rasulullah mengambil inisiatif (lebih baik) menyerbu mereka.
Namun sayang, saat itu keuangan negara sedang krisis, lalu Rasulullah berpidato dengan memberi semangat para sahabat tentang janji surga bagi orang yang mau berinfak.
Kemudian secara berbondong para sahabat berlomba-lomba menginfakkan hartanya di jalan Allah.Dan di sana didapati Abu Bakar Ash Shiddiq menginfakkan seluruh hartanya di jalan Allah.

No comments:

Post a Comment