Monday, September 22, 2014

Lanjutan ... 5. MEMBINA QAIDAH SHALABAH


Yang dimaksud dengan qaidah shalabah adalah generasi inti. Yaitu generasi yang setia setiap saat untuk membantu, membela dan bahkan; siap habis-habisan!
Sebenarnya bukan hanya Rasulullah saja yang berbuat seperti itu melainkan di setiap gerakan apa saja selalu membutuh orang-orang seperti ini. Kalau tidak maka bila kelompok ataupun gerakan tersebut mengalami krisis, niscaya akan segera habislah kelompok tersebut. Sebab tidak ada seorangpun yang setia!
Begitu juga dengan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam, beliau juga membina generasi qaidah salabah agar Islam ini tetap terjaga di saat-saat kritis dan genting! Lalu Adakah manusia mampu menandingi Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam dalam hal membentuk qaidah salabah?
Coba perhatikan contoh peristiwa berikut ini:
a.       Ketika perang Uhud berkecamuk, tiba-tiba Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam terjebak masuk perangkap sumur buatan musyrikin Quraisy. Saat itu seorang musyrik Quraisy yang melihatnya langsung berteriak lantang, ‘Muhammad telah ku bunuh!’. Padahal dia belum membunuh sama sekali, hanya teriakannya saja. Akhirnya Rasulullahu langsung merebut lembing yang dipegang musuh dan langsung dilemparkan kepada orang yang berteriak tadi. Yang justru dialah yang mati terbunuh ditangan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam.
Ternyata teriakan musuh Allah tadi sempat mengacaaukan mental pasukan muslimin hingga tidak sedikit yang lari. Tetapi ada “pasukan SALABAH” berjumlah 13 orang yang akhirnya rela menjadi tameng Rasulullah agar beliau shalallahu ‘alaihi wa salam bisa bangkit dari dalam sumur.
Ketiga belas orang ini bergandengan tangan membuat lingkaran dengan dada masing-masing menghadap musuh. Sehingga musuh dengan mudah menyerang mereka.
Konon disebutkan bahwa masing-masing dari mereka tertancap 50an panah!
Begitu dada mereka penuh dengan panah, mereka membalikkan badan! Subhaanallah!
b.      Abu Bakar Ash Shiddiq yang memproklamirkan perang terhadap orang/kelompok yang meninggalkan zakat.
Ketika khalifah Abu Bakar Ash Shiddiq memproklamirkan ini segera Umar bin Khaththab menghadapnya seraya berkata, ‘Bukankah mereka masih melaksanakan sholat?’.
Mendengar itu Abu Bakar langsung menangkap jenggot Umar lalu diseret menghadap muka Abu Bakar dengan mengatakan, ‘Bukankah Allah dalam Al Qur’an tidak pernah memisahkan antara sholat dan zakat (kecuali surat Al Kautsar, pent).?’.
Akhirnya Krisis meninggalkan zakat dan nabi palsupun teratasi di masa pemerintahan Abu Bakar Ash Shiddiq radliyallahu ‘anhu.
Cuma perkaranya mencetak kader qaidah shalabah itu tidak mudah. Yaitu:
a.       membutuhkan waktu yang lama serta panjangnya pendidikan (tarbiyah).
b.      Pembinaan ruhani yang selalu ada, kontinyu serta berkesinambungan. Diantaranya sholat tahajjud menjadi rutinitas harian dalam waktu yang sangat lama.
Wallahu a’lam.

No comments:

Post a Comment