Mungkin
kalau tahun baru masehi akan ada banyak acara di berbagai tempat. Bahkan tidak
sedikit di tempat-tempat maksiat sudah banyak dibooking. Sebab beberapa tahun
yang lalu saja pernah ada teman yang mensurvei, dan ternyata di salah satu kota
pelajar; pada jam 20.00 wib di setiap apotik sudah tidak ada lagi ‘sarung
pengaman’ alias ludes laris manis terjual.
Lalu
di pagi harinya, petugas pantai terkenal di kota itu menemukan seabrek sarung
pengaman itu sudah terpakai dan sudah ‘berisi’. Na’udzubillah!
Tapi
kalau tahun baru yang tentunya tidak boleh disamakan penyambutannya. Sebab
tahun baru Islam ini diilhami oleh hijrahnya Rasulullah dari Makkah ke Madinah.
Yaitu perpindahan dari negeri kegelapan ke negeri terang. Dari negeri kafir ke
negeri Islam, dari negeri maksiat ke negeri shalih.
Dan
yang lebih bermakna adalah bahwa sejak hijrahnya Rasulullah shalallahu ‘alaihi
wa salam ke Madinah inilah awal perubahan dunia. Betapa tidak?
Madinah
yang dahulu ‘tidak terlilhat’ dalam peta kini mulai terlihat menonjol. Padahal
hanya dalam rentang waktu sepuluh tahun, negara adi kuasa saat itu, Persia dan
Romawi, tergerogoti pengaruhnya. Termasuk juga ‘aset jajahannya’.
Selain
itu Madinah akhirnya juga menjadi pusat ilmu pengetahuan dan peradaban. Mulai
dari ilmu agama hingga ilmu pengetahuan duniawi.
Yang
terpenting lagi; dengan Madinah dijadikan
sebagai tempat hijrah (mahjar) inilah akhirnya Rasulullah shalallahu ‘alaihi
wa salam mampu mengoptimalkan dakwah Islamnya. Hingga mampu mencetak generasi
yang laur biasa!. Sebab sepeninggal Rasulullah Islam terus merangksek
negeri-negeri jajahan Persia dan Romawi dan merubah warna kehidupannya dengan
warna Islam.
Tidak
hanya itu, pusat kekuasaan Persia pun dilumat habis oleh Islam. Sebagaimana
sabda Rsulullah shalallahu ‘alaihi wa salam kepada Suraqah; “Kalau kamu mau
masuk Islam niscaya kamu kelak akan memakai mahkota raja Prsia”.
Sungguh
benar kabar Allah yang disampaikan Rasulullah kepada para sahabatnya, “Sesungguhnya
Allah telah memperlihatkan bumi kepadaku dari Timur ke Barat. Dan semua itu
kelak akan kemasukan cahaya Islam”.
Dab
benar saja, cahaya Islam itu telah menerangi negeri-negeri Barat. Padahal
hingga abad ke-17 Barat suasananya amat sangat gelap gulita sekali.
Tapi
sungguh ironi, Islam yang bercahaya ini redup akibat umatnya membaung cahaya
ini ke belakang. Sehingga umat saat ini tergagap-gagap terhadap kemajuan zaman.
Oleh
karenanya harapannya di tahun baru 1436 H ini umat mualai sadar bahwa kita
punya penerang yang lebih terang. Lebih jelas dan lebih meyakinkan serta
beradab. Tidak perlu gagap dengan kondisi hari ini. Maka mari umat Islam agar
kembali merenungi makna hijrah agar umat Islam mampu menjadi juru penerang dan
juru peradaban. Wallahu a’lam.
No comments:
Post a Comment