Idul
Adha dan ritual ibadah haji sudah usai, tetapi seharusnya semangat mengikuti
jejak nabi Ibrahim ‘alaihi salam harus tetap terpatri dalam diri. Sebab Idul
Adha dan ritual haji adalah bagian dari prestasi nabi Ibrahim ‘alaihi salam dan
keluarganya dalam mewujudkan cintanya pada Allah Subhaanahu wa Ta’ala melebihi
dari cinta mereka kepada selain-Nya.
Coba
bayangkan, beliau sudah menikah lebih dari 125 tahun tetapi belum dikaruniai
anak. Padahal beliau sadar bahwa menikahnya beliau dilandasi atas dasar agar
estafet dakwah Islam ini tetap berjalan. Jadi bukan karena syahwat!
Oleh
karena demi melanjutkan perjuangan dakwah inilah yang akhirnya sang istri,
Sarah, merelakan suaminya menikah lagi dengan Hajar. Harapannya, semoga Ibrahim
‘alaihi salam mendapatkan putra lewat Hajar.
Ternyata
benar, nabi Ibrahim bisa mempunyai putra setelah memperistri Hajar. Namun Allah
langsung mengujinya. Yakni Ibrahim harus membawa Hajar dan putranya yang
diidam-idamkan ke negeri asing yang tandus. Lembah Bakka, yang sekarang disebut
Makkah.
Sesampainya
di Lembah Bakka Ibrahim langsung membuatkan tenda untuk tempat berteduh istri
dan putra semata wayangnya. Begitu tenda selesai Ibrahim langsung bergegas
pergi meninggalkan istri dan anaknya sendirian tanpa tetangga dan sanak
saudara.
Hajar
yang masih duduk memangku putranya tahu kalau suaminya dengan langkah berat
secara perlahan meninggalkan diri dan putranya. Lalu Hajar bertanya, “Wahai
Ibrahim, suamiku, tegakah engkau meninggalkan kami berdua di sini?”.
Sebenarnya
nabi Ibrahim mendengar tetapi tidak menjawab. Maka diulanginya pertanyaan itu
kepada nabi Ibrahim untuk kedua kalinya. Namun tidak dijawab juga. Hingga yang
ketiga pun sama.
Akhirnya
Hajarpun mengajukan pertanyaan berbeda, “Wahai Ibrahim, suamiku, apakah ini
perintah Allah”. Ibrahim pun terhenti langkah, sambil setengah menoleh beliau
menjawab dengan suara parau, “Iya.”
Maka
dengan mantap Hajar pun berujar, “Kalau ini perintah Allah maka kami tidak akan
pernah terlantar”.
Sungguh
dua suami istri ini benar-benar telah mencapai titik tauhid paling tinggi.
Yakni tauhidUluhiyah. Bukan sekedar tauhid asma’ wa sifat, hanya sekedar
mengetahui (paling banter) nama-nama dan sifat-sifat Allah yang baik. Juga
bukan sekedar mengetahui rububiyah, keMaha Kuasaan Allah saja, melainkan
benar-benar mengamalkan kedua tauhid itu sendiri –tauhid asma’ wa sifat dan
tauhid rububiyah-.
Namun
begitu bukan berarti Hajar sekedar pasrah dengan mengimani bahwa Allah tidak
akan menyengsarakan dia dan putranya. Hajar tetap melakukan ikhtiar yang sesuai
dengan syariat walaupun menurutnya hal itu tidak mungkin terjadi.
Yaitu
lihat saja usaha yang dilakukan Hajar tatkala bekalnya habis dan (maaf)
payudaranya sudah tidak lagi mengeluarkan air susu untuk putranya, Ismail.
Hajar
menuju bukit Safa dengan harapan, siapa tahu ada air. Dari bukit Safa beliau
lihat ke arah Marwa. Di sana terlihat seakan ada genangan air. Maka berlarilah
Hajar seorang diri ke Marwa untuk mengambil air.
Sesampainya
di bukit Marwa ternyata yang Hajar dapatkan hanyalah hamparan pasir kering
tanpa air sebagaimana yang dilihatnya tadi waktu di bukit Safa. Namun ketika
pandangannya diarahkan ke bukit Safa, Hajar kemballi melihat seakan di bukit
Safa ada genangan air. Maka kembali Hajar berlari-lari kecil menuju bukit Safa
untuk mengambil air. Sedampainya di bukit Safa pun hasil nihil lagi.
Begitu
seterusnya hingga tujuh kali Hajar berlari-lari kecil dari bukit Safa ke Marwa,
berikhtiar mencari air untuk menyambung hidup. Padahal ditinggalkan nabi
Ibrahim tadi Hajar berujar, “Kalau ini perintah Allah maka kami tidak akan
pernah terlantar”.
Ya,
inilah tauhid uluhiyah. Dia yakin bahwa Allah Maha Pemberi Rezeki tapi bukan
berdiam diri dan nanti secara tiba-tiba rezeki akan datang dengan sendirinya.
Dan
benar saja, begitu Allah sudah melihat kesungguhan Hajar dalam ikhtiarnya
mencari penghidupan, maka kemudian Allah pun memberinya melalui kemunculan air
di bawah kaki putranya yang menangis kelaparan.
Wallahu
a’lam.
No comments:
Post a Comment