Wednesday, October 8, 2014

BELAJAR DARI NABI IBRAHIM


Idul Adha dan ritual ibadah haji sudah usai, tetapi seharusnya semangat mengikuti jejak nabi Ibrahim ‘alaihi salam harus tetap terpatri dalam diri. Sebab Idul Adha dan ritual haji adalah bagian dari prestasi nabi Ibrahim ‘alaihi salam dan keluarganya dalam mewujudkan cintanya pada Allah Subhaanahu wa Ta’ala melebihi dari cinta mereka kepada selain-Nya.
Coba bayangkan, beliau sudah menikah lebih dari 125 tahun tetapi belum dikaruniai anak. Padahal beliau sadar bahwa menikahnya beliau dilandasi atas dasar agar estafet dakwah Islam ini tetap berjalan. Jadi bukan karena syahwat!
Oleh karena demi melanjutkan perjuangan dakwah inilah yang akhirnya sang istri, Sarah, merelakan suaminya menikah lagi dengan Hajar. Harapannya, semoga Ibrahim ‘alaihi salam mendapatkan putra lewat Hajar.
Ternyata benar, nabi Ibrahim bisa mempunyai putra setelah memperistri Hajar. Namun Allah langsung mengujinya. Yakni Ibrahim harus membawa Hajar dan putranya yang diidam-idamkan ke negeri asing yang tandus. Lembah Bakka, yang sekarang disebut Makkah.
Sesampainya di Lembah Bakka Ibrahim langsung membuatkan tenda untuk tempat berteduh istri dan putra semata wayangnya. Begitu tenda selesai Ibrahim langsung bergegas pergi meninggalkan istri dan anaknya sendirian tanpa tetangga dan sanak saudara.
Hajar yang masih duduk memangku putranya tahu kalau suaminya dengan langkah berat secara perlahan meninggalkan diri dan putranya. Lalu Hajar bertanya, “Wahai Ibrahim, suamiku, tegakah engkau meninggalkan kami berdua di sini?”.
Sebenarnya nabi Ibrahim mendengar tetapi tidak menjawab. Maka diulanginya pertanyaan itu kepada nabi Ibrahim untuk kedua kalinya. Namun tidak dijawab juga. Hingga yang ketiga pun sama.
Akhirnya Hajarpun mengajukan pertanyaan berbeda, “Wahai Ibrahim, suamiku, apakah ini perintah Allah”. Ibrahim pun terhenti langkah, sambil setengah menoleh beliau menjawab dengan suara parau, “Iya.”
Maka dengan mantap Hajar pun berujar, “Kalau ini perintah Allah maka kami tidak akan pernah terlantar”.
Sungguh dua suami istri ini benar-benar telah mencapai titik tauhid paling tinggi. Yakni tauhidUluhiyah. Bukan sekedar tauhid asma’ wa sifat, hanya sekedar mengetahui (paling banter) nama-nama dan sifat-sifat Allah yang baik. Juga bukan sekedar mengetahui rububiyah, keMaha Kuasaan Allah saja, melainkan benar-benar mengamalkan kedua tauhid itu sendiri –tauhid asma’ wa sifat dan tauhid rububiyah-.
Namun begitu bukan berarti Hajar sekedar pasrah dengan mengimani bahwa Allah tidak akan menyengsarakan dia dan putranya. Hajar tetap melakukan ikhtiar yang sesuai dengan syariat walaupun menurutnya hal itu tidak mungkin terjadi.
Yaitu lihat saja usaha yang dilakukan Hajar tatkala bekalnya habis dan (maaf) payudaranya sudah tidak lagi mengeluarkan air susu untuk putranya, Ismail.
Hajar menuju bukit Safa dengan harapan, siapa tahu ada air. Dari bukit Safa beliau lihat ke arah Marwa. Di sana terlihat seakan ada genangan air. Maka berlarilah Hajar seorang diri ke Marwa untuk mengambil air.
Sesampainya di bukit Marwa ternyata yang Hajar dapatkan hanyalah hamparan pasir kering tanpa air sebagaimana yang dilihatnya tadi waktu di bukit Safa. Namun ketika pandangannya diarahkan ke bukit Safa, Hajar kemballi melihat seakan di bukit Safa ada genangan air. Maka kembali Hajar berlari-lari kecil menuju bukit Safa untuk mengambil air. Sedampainya di bukit Safa pun hasil nihil lagi.
Begitu seterusnya hingga tujuh kali Hajar berlari-lari kecil dari bukit Safa ke Marwa, berikhtiar mencari air untuk menyambung hidup. Padahal ditinggalkan nabi Ibrahim tadi Hajar berujar, “Kalau ini perintah Allah maka kami tidak akan pernah terlantar”.
Ya, inilah tauhid uluhiyah. Dia yakin bahwa Allah Maha Pemberi Rezeki tapi bukan berdiam diri dan nanti secara tiba-tiba rezeki akan datang dengan sendirinya.
Dan benar saja, begitu Allah sudah melihat kesungguhan Hajar dalam ikhtiarnya mencari penghidupan, maka kemudian Allah pun memberinya melalui kemunculan air di bawah kaki putranya yang menangis kelaparan.
Wallahu a’lam.

No comments:

Post a Comment