Thursday, October 16, 2014

BELAJAR KE NEGERI TIONGKOK


Ada keunikan ketika membicarakan masalah Tiongkok. Negeri yang dijuluki “Tirai Bambu” ini sempat menjadi ‘kontroversi’. Sebab ada sebuah hadits yang menyebutkan; Carilah ilmu walau sampai ke negeri Cina.
Ya benar, memang dahulu negeri itu pernah disebut juga Cina. Bahkan sampai hari ini masih disebut negeri Cina oleh kebanyakan bangsa lain, hanya Indonesia saja yang beberapa waktu lalu dirubah dengan nama TIONGKOK.
Namun bukan ini yang akan dibicarakan, tetapi ada ‘suatu’ hal menggelitik yang perlu dicermati negeri Tiongkok ini. Sebab selain negaranya menganut faham komunis juga ternyata oleh sebagian kaum muslimin meragukan tentang hadits di atas.
Wallahu a’lam, yang jelas hari ini tidak akan membicarakan tentang benar/tidak, shahih atau tidaknya hadits di atas. Melainkan ungkapan tentang mencari ilmu sampai ke negeri Cinanya itu.
Oleh karenanya mari berfikir sejenak untuk  men’zoom’ Tiongkok ini dari beberapa sisi agar sedikit tergugah.
1.      Menurut informasi dari ‘radio dengkul’ menyebutkan bahwa mereka sangat kuat dalam memegang tradisi/budaya nenek moyangnya.
Walaupun sudah diketahui bersama bahwa berpegang teguh pada budaya jahiliyah sangat dilarang dalam agama. Coba kalau seandainya tradisi/budaya yang mereka pegang adalah budaya Islam, maka akan menjadi luar biasa tentunya.
Maaf, dalam hal ini bukan berarti ingin mengajak “Islamisasi” budaya jahiliyah. Seperti; kebiasaan bila ada orang meninggal maka malam selalu diadakan tahlil/yasinan selama tujuh hari berturut-turut, bukan itu yang dimaksud. Tetapi yan dimaksud adalah; bila kebiasaan/adat itu sudah menjadi tradisi kebaikan turun temurun dari dahulu. Seperti shalat berjamaah tepat waktu di masjid, menyambung tali silaturahim, berkhitan dan sebagainya.
Nah karena yang terakhir ini sesuai dan ajarannya dalam Islam maka boleh atau bahkan dianjurkan untuk tetap dilestarikan.
2.      Masih menurut ‘radio dengkul’, mereka bahu membahu dalam bekerja di luar negerinya.
Artinya bahwa mereka terkadang sampai pada tingkatan membantu dalam urusan permodalan, tanpa bunga dan pamrih lagi! Coba kalau seandainya hal ini diberlakukan pada diri kaum muslimin, tentunya bank-bank riba itu sudah gulung tikar sebelum dilikuidasi.
3.      Informasi yang agak membelalak mata adalah; anak pertama hingga kesepuluh menjadi tanggungan orang tuanya, sedangkan anak kesebelas ke atas menjadi tanggungan negara.
Itu artinya bahwa dikalangan mereka sendiri ada keyakinan bahwa ‘banyak anak banyak rezeki’.
Tetapi kenapa pemerintahnya –masih dalam informasi raido dengkul- hanya mau bertanggung jawab terhadap anak kesepuluh ke atas? Ya, ternyata hal itu memicu penduduknya beranak banyak. Namun dengan banyaknya anak ini membuat mereka menjadi ‘perantau’ ulung. Sebab merantaunya mereka bukan hanya di dalam negeri melainkan ke luar negeri.
Hingga hari ini, seandainya bumi ini diiris-iris tiap-tiap daerah, kota, bahkan sampai negara, maka bisa dipaastikan kalau di tempat itu ada Cina-nya.
4.      Berdagang adalah jalan hidupnya ketika mereka di luar negeri.
Sebagaimana lazimnya para perantau mereka menyadari bahwa mereka tidak akan mungkin masuk ke dalam dunia pemerintahan. Sebab akan menjadi preseden buruk bagi mereka di kemudian hari nanti, hal itu disebabkan mereka adalah pendatang alias non pribumi. Namun di sisi lain mereka harus hidup dan mereka juga ingat keluarga besarnya di Cina menunggu ‘angpao’ hasil keringat mereka di tanah rantau.
Oleh karenanya berdagang adalah alternatif yang tidak bisa dielakkan. Karena dengan perdaganganlah angka percepatan ekonomi bisa berjalan cepat.
Maka tidak heran bila hampir di semua lini perdagangan selalu saja ada orang Cina-nya di sana. Baik mulai dari bisnis kelas kakap hingga kelas coro, mereka selalu ada dan hadir ditengah-tengah masyarakat.
Hingga hari ini, walaupun Amerika mengatakan bahwa negara mereka adalah negara terkaya, namun mayoritas pemain bisnisnya dikuasai orang-orang Tiongkok. Jepang; produsen otomotif, juga tidak bisa bergerak tanpa campur tangan orang-orang Tiongkok.
Padahal dahulu Islam masuk ke suatu negeri hanya ada dua alternatif; perang dan perdagangan. Adapun Indonesia sendiri kedatangan Islam melalui pintu perdagangan. Maka tak heran bila hari ini kebudayaan Tiongkok mulai melekat di masyarakat karena dakwah (baca: pengaruh) Tiongkok begitu kuat ditengah masyarakat.
5.      Menggunakan falsafah kungfu.
Dalam berdagang/bisnis orang-orang Tiongkok ini selalu menggunakan falsafah kungfu. Ya, kungfu adalah ilmu beladiri kelahiran Tingkok ini sangat mempengaruhi sampai pada tingkatan bisnis mereka.
Konon prinsip gaya gerak kungfu adalah; sekali menghindar/menangkis lalu dibalas dua kali pukulan. Kemudian mereka menggunakan prinsip ini ke dalam dunia bisnis. Misal, sekali mereka membuat even, harga jual direndahkan. Entah dengan bahasa; obral, promo, discount, memperingati hari jadi tertentu dan sebagainya. Nah ketika melihat animo masyarakat begitu tinggi maka esok hari harga sudah berubah. Di sinilah masyarakat terkena pukulan kungfunya.
Padahal dalam Islam falsafahnya cukup dengan zakat, infak dan sedekah. Hal ini justru lebih mempererat tali hubungan antara si kaya dengan si miskin. Selain iyu perputaran keuangan akan senantiasa terus mengalir. Sebab begitu muaranya sudah sampai kepada yang kaya maka yang kaya langsung kembali mengembalikannya dengan cara zakat, infak dan sedekah tadi. Berbeda dengan falsafah kungfu; muara ekonominya terus menggurita hanya pada orang-orang Taipan saja.
6.      Pekerja Keras.
Satu hal yang perlu mendapat apresiasi bagi warga Tiongkok bahwa secara umum mereka adalah pekerja keras.
Ya benar. Mereka selalu bekerja, bekerja dan bekerja. Kerangka berfikir mereka selalu; bagaimana cara mendapatkan uang sebanyak-banyaknya.
Bukankah Islam telah mengajarkan tentang hal ini? Bahkan bekerja untuk dunia dan akhirat. Sehingga para sahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam sudah memberikan contoh konkrit pada masalah ini. Hanya muslimin hari ini saja yang ogah mengikutinya. Lihat saja literatur para sahabat yang selalu keluar masuk Madinah-Syam.
Bahkan Abdurrahman bin Auf, tatkala kafilah dagangnya gemuruh saat malam hari memasuki kota Madinah. Maka ‘Aisyah mengatakan bahwa kelak Abdurrahman bin Auf akan masuk surga dengan merangkak.
Mendengar itu Abdurrahman bin Auf langsung menginfakkan seluruh harta perdagangannya untuk kepentingan Islam dan muslimin.
Tetapi esok hari Abdurrahman bin Auf langsung bisa berdagang lagi seperti semula. Padahal malam harinya hartanya telah diifakkan untuk Islam.
7.      Selalu ingat Keluarga.
Yang dimaksud dengan selalu ingat keluarga adalah bahwa mereka selalu ingat dengan kaum kerabatnya di Tiongkok sana. Terlebih negaranya!
Bila melihat pemaparan dari atas bisa disimpulkan bahwa anak pertama hingga kesepuluh itu mereka harus merantau ke luar negeri. Tetapi orang tua selalu mengingatkan; nak, ingat keluargamu! Ingat adik-adikmu. Mereka perlu biaya! Mereka perlu bantuan!
Maka tak ayal lagi bila sekali merantau pantang berpulang sebelum membawa seabrek kesuksesan. Bila tidak mampu mengirimkan kesuksesan ya membantu mencarikan solusi bagi keluarganya.
Maka tak heran bila hari ini Amerika ngos-ngosan melawan CROSS yang murahan. NOKIA dibuat limbung! Kenapa? Sebab yang mempunyai gerai itu para Tiongkok yang (mungkin) tidak bisa membantu keuangan ke negerinya. Maka mereka akhirnya ikut membantu menjualkan barang dagangan ‘saudaranya’ agar bisa laku di pasaran.
Ini menandakan bahwa mereka juga memperlakukan manusia sesuai dengan: IN group dan OUT group. Paguyuban dan patembayan.
Ternyata mereka lebih mementingkan IN group dan paguyubannya dibandingkan dengan OUT group dan patembayannya. Mereka mau menggunakan Out groupnya bila IN groupnya belum berfungsi secara baik dan maksimal, tetapi bila sudah final segalanya maka mereka tidak segan-segan menDO OUT group, sebagaimana nasib yang menimpa NOKIA.
Padahal hari ini, yang namanya ayam tiren dan sapi glonggongan serta sembelihan yang meragukan sungguh sangat memilukan didengar. Tetapi muslimin hari ini belum tergerak ke arah sana. Belum lagi para pengusaha muslim yang secara ‘kalsikal’ selalu gulung tikar karena goyangan hebat dari permainan harga ayng tidak sehat dan tidak seimbang.
Kalau sudah seperti itu bagaimana mungkin bisa menDO fanta, sprite, coca cola, KFC dan lain sebagainya.
Semoga menjadi bahan renungan bagi setiap muslim. Wallahu a’lam.

No comments:

Post a Comment