Ada
keunikan ketika membicarakan masalah Tiongkok. Negeri yang dijuluki “Tirai
Bambu” ini sempat menjadi ‘kontroversi’. Sebab ada sebuah hadits yang
menyebutkan; Carilah ilmu walau sampai ke negeri Cina.
Ya
benar, memang dahulu negeri itu pernah disebut juga Cina. Bahkan sampai hari
ini masih disebut negeri Cina oleh kebanyakan bangsa lain, hanya Indonesia saja
yang beberapa waktu lalu dirubah dengan nama TIONGKOK.
Namun
bukan ini yang akan dibicarakan, tetapi ada ‘suatu’ hal menggelitik yang perlu
dicermati negeri Tiongkok ini. Sebab selain negaranya menganut faham komunis
juga ternyata oleh sebagian kaum muslimin meragukan tentang hadits di atas.
Wallahu
a’lam, yang jelas hari ini tidak akan membicarakan tentang benar/tidak, shahih
atau tidaknya hadits di atas. Melainkan ungkapan tentang mencari ilmu sampai ke
negeri Cinanya itu.
Oleh
karenanya mari berfikir sejenak untuk
men’zoom’ Tiongkok ini dari beberapa sisi agar sedikit tergugah.
1.
Menurut
informasi dari ‘radio dengkul’ menyebutkan bahwa mereka sangat kuat dalam
memegang tradisi/budaya nenek moyangnya.
Walaupun sudah diketahui bersama bahwa berpegang teguh pada budaya
jahiliyah sangat dilarang dalam agama. Coba kalau seandainya tradisi/budaya
yang mereka pegang adalah budaya Islam, maka akan menjadi luar biasa tentunya.
Maaf, dalam hal ini bukan berarti ingin mengajak “Islamisasi”
budaya jahiliyah. Seperti; kebiasaan bila ada orang meninggal maka malam selalu
diadakan tahlil/yasinan selama tujuh hari berturut-turut, bukan itu yang
dimaksud. Tetapi yan dimaksud adalah; bila kebiasaan/adat itu sudah menjadi
tradisi kebaikan turun temurun dari dahulu. Seperti shalat berjamaah tepat
waktu di masjid, menyambung tali silaturahim, berkhitan dan sebagainya.
Nah karena yang terakhir ini sesuai dan ajarannya dalam Islam maka
boleh atau bahkan dianjurkan untuk tetap dilestarikan.
2.
Masih
menurut ‘radio dengkul’, mereka bahu membahu dalam bekerja di luar negerinya.
Artinya bahwa mereka terkadang sampai pada tingkatan membantu dalam
urusan permodalan, tanpa bunga dan pamrih lagi! Coba kalau seandainya hal ini
diberlakukan pada diri kaum muslimin, tentunya bank-bank riba itu sudah gulung
tikar sebelum dilikuidasi.
3.
Informasi
yang agak membelalak mata adalah; anak pertama hingga kesepuluh menjadi tanggungan
orang tuanya, sedangkan anak kesebelas ke atas menjadi tanggungan negara.
Itu artinya bahwa dikalangan mereka sendiri ada keyakinan bahwa
‘banyak anak banyak rezeki’.
Tetapi kenapa pemerintahnya –masih dalam informasi raido dengkul-
hanya mau bertanggung jawab terhadap anak kesepuluh ke atas? Ya, ternyata hal
itu memicu penduduknya beranak banyak. Namun dengan banyaknya anak ini membuat
mereka menjadi ‘perantau’ ulung. Sebab merantaunya mereka bukan hanya di dalam
negeri melainkan ke luar negeri.
Hingga hari ini, seandainya bumi ini diiris-iris tiap-tiap daerah,
kota, bahkan sampai negara, maka bisa dipaastikan kalau di tempat itu ada Cina-nya.
4.
Berdagang
adalah jalan hidupnya ketika mereka di luar negeri.
Sebagaimana lazimnya para perantau mereka menyadari bahwa mereka
tidak akan mungkin masuk ke dalam dunia pemerintahan. Sebab akan menjadi
preseden buruk bagi mereka di kemudian hari nanti, hal itu disebabkan mereka
adalah pendatang alias non pribumi. Namun di sisi lain mereka harus hidup dan
mereka juga ingat keluarga besarnya di Cina menunggu ‘angpao’ hasil keringat
mereka di tanah rantau.
Oleh karenanya berdagang adalah alternatif yang tidak bisa
dielakkan. Karena dengan perdaganganlah angka percepatan ekonomi bisa berjalan
cepat.
Maka tidak heran bila hampir di semua lini perdagangan selalu saja
ada orang Cina-nya di sana. Baik mulai dari bisnis kelas kakap hingga kelas
coro, mereka selalu ada dan hadir ditengah-tengah masyarakat.
Hingga hari ini, walaupun Amerika mengatakan bahwa negara mereka
adalah negara terkaya, namun mayoritas pemain bisnisnya dikuasai orang-orang
Tiongkok. Jepang; produsen otomotif, juga tidak bisa bergerak tanpa campur tangan
orang-orang Tiongkok.
Padahal dahulu Islam masuk ke suatu negeri hanya ada dua
alternatif; perang dan perdagangan. Adapun Indonesia sendiri kedatangan Islam
melalui pintu perdagangan. Maka tak heran bila hari ini kebudayaan Tiongkok
mulai melekat di masyarakat karena dakwah (baca: pengaruh) Tiongkok begitu kuat
ditengah masyarakat.
5.
Menggunakan
falsafah kungfu.
Dalam berdagang/bisnis orang-orang Tiongkok ini selalu menggunakan
falsafah kungfu. Ya, kungfu adalah ilmu beladiri kelahiran Tingkok ini sangat
mempengaruhi sampai pada tingkatan bisnis mereka.
Konon prinsip gaya gerak kungfu adalah; sekali menghindar/menangkis
lalu dibalas dua kali pukulan. Kemudian mereka menggunakan prinsip ini ke dalam
dunia bisnis. Misal, sekali mereka membuat even, harga jual direndahkan. Entah
dengan bahasa; obral, promo, discount, memperingati hari jadi tertentu dan
sebagainya. Nah ketika melihat animo masyarakat begitu tinggi maka esok hari
harga sudah berubah. Di sinilah masyarakat terkena pukulan kungfunya.
Padahal dalam Islam falsafahnya cukup dengan zakat, infak dan
sedekah. Hal ini justru lebih mempererat tali hubungan antara si kaya dengan si
miskin. Selain iyu perputaran keuangan akan senantiasa terus mengalir. Sebab
begitu muaranya sudah sampai kepada yang kaya maka yang kaya langsung kembali
mengembalikannya dengan cara zakat, infak dan sedekah tadi. Berbeda dengan
falsafah kungfu; muara ekonominya terus menggurita hanya pada orang-orang
Taipan saja.
6.
Pekerja
Keras.
Satu hal yang perlu mendapat apresiasi bagi warga Tiongkok bahwa
secara umum mereka adalah pekerja keras.
Ya benar. Mereka selalu bekerja, bekerja dan bekerja. Kerangka
berfikir mereka selalu; bagaimana cara mendapatkan uang sebanyak-banyaknya.
Bukankah Islam telah mengajarkan tentang hal ini? Bahkan bekerja
untuk dunia dan akhirat. Sehingga para sahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa
salam sudah memberikan contoh konkrit pada masalah ini. Hanya muslimin hari ini
saja yang ogah mengikutinya. Lihat saja literatur para sahabat yang selalu
keluar masuk Madinah-Syam.
Bahkan Abdurrahman bin Auf, tatkala kafilah dagangnya gemuruh saat
malam hari memasuki kota Madinah. Maka ‘Aisyah mengatakan bahwa kelak
Abdurrahman bin Auf akan masuk surga dengan merangkak.
Mendengar itu Abdurrahman bin Auf langsung menginfakkan seluruh
harta perdagangannya untuk kepentingan Islam dan muslimin.
Tetapi esok hari Abdurrahman bin Auf langsung bisa berdagang lagi
seperti semula. Padahal malam harinya hartanya telah diifakkan untuk Islam.
7.
Selalu
ingat Keluarga.
Yang dimaksud dengan selalu ingat keluarga adalah bahwa mereka
selalu ingat dengan kaum kerabatnya di Tiongkok sana. Terlebih negaranya!
Bila melihat pemaparan dari atas bisa disimpulkan bahwa anak pertama
hingga kesepuluh itu mereka harus merantau ke luar negeri. Tetapi orang tua
selalu mengingatkan; nak, ingat keluargamu! Ingat adik-adikmu. Mereka perlu
biaya! Mereka perlu bantuan!
Maka tak ayal lagi bila sekali merantau pantang berpulang sebelum
membawa seabrek kesuksesan. Bila tidak mampu mengirimkan kesuksesan ya membantu
mencarikan solusi bagi keluarganya.
Maka tak heran bila hari ini Amerika ngos-ngosan melawan CROSS yang
murahan. NOKIA dibuat limbung! Kenapa? Sebab yang mempunyai gerai itu para
Tiongkok yang (mungkin) tidak bisa membantu keuangan ke negerinya. Maka mereka
akhirnya ikut membantu menjualkan barang dagangan ‘saudaranya’ agar bisa laku
di pasaran.
Ini menandakan bahwa mereka juga memperlakukan manusia sesuai
dengan: IN group dan OUT group. Paguyuban dan patembayan.
Ternyata mereka lebih mementingkan IN group dan paguyubannya
dibandingkan dengan OUT group dan patembayannya. Mereka mau menggunakan Out
groupnya bila IN groupnya belum berfungsi secara baik dan maksimal, tetapi bila
sudah final segalanya maka mereka tidak segan-segan menDO OUT group,
sebagaimana nasib yang menimpa NOKIA.
Padahal hari ini, yang namanya ayam tiren dan sapi glonggongan
serta sembelihan yang meragukan sungguh sangat memilukan didengar. Tetapi
muslimin hari ini belum tergerak ke arah sana. Belum lagi para pengusaha muslim
yang secara ‘kalsikal’ selalu gulung tikar karena goyangan hebat dari permainan
harga ayng tidak sehat dan tidak seimbang.
Kalau sudah seperti itu bagaimana mungkin bisa menDO fanta, sprite,
coca cola, KFC dan lain sebagainya.
Semoga
menjadi bahan renungan bagi setiap muslim. Wallahu a’lam.
No comments:
Post a Comment