Saturday, October 4, 2014

KHUTBAH IDUL ADHA 1435 H


بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الله اكبر 2X   لا اله الا اللهُ والله اكبر الله اكبر ولله الحمْدُ.
الله اكبر  كبيراً, والحمدُ للهِ كثيراَ, وصبحانَ اللهِ بكرةً واصيلا. لااله الااللهُ وحدَه, صدق وعده, ونصر عبده, واعَزّجُندَه, وهزم الاحزاب وحده. لااله الااللهُ و الله اكبر, الله اكبر ولله الحمد.
===
إن الحمد لله، نحمده ونستعينه، ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا، ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له ، ومن يضلل فلا هادي له .
وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمداً عبده ورسوله، صلى الله عليه وسلم، يقول - تعالى - في محكم تنزيله : { يا أيها الذين آمنوا اتقوا الله حق تقاته ولا تموتن إلا وأنتم مسلمون } [سورة آل عمران ، الآية :102 ] .
ويقول - جل ثناؤه :- { يا أيها الناس اتقوا ربكم الذي خلقكم من نفس واحدة وخلق منها زوجها وبث منهما رجالاً كثيرًا ونساء واتقوا الله الذي تساءلون به والأرحام إن الله كان عليكم رقيباً } . [سورة النساء الآية : 1 ]
وقال عز وجل : { يا أيها الذين آمنوا اتقوا الله وقولوا قولا سديداً . يصلح لكم أعمالكم ويغفر لكم ذنوبكم ومن يطع الله ورسوله فقد فاز فوزاً عظيمًا } [سورة الأحزاب ، الآية 70 ] .
وبعد:
الله اكبر 2X   لا اله الا اللهُ والله اكبر الله اكبر ولله الحمْدُ.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah ....
Di pagi hari yang cerah ini marilah kita meningkatkan takwa dan bersyukur kepada Allah Subhaanahu wa Ta’ala, yang telah memberikan nikmat iman dan Islam. Suatu nikmat paling berharga di dunia ini. Iman adalah nikmat yang hari ini sedang dipertaruhkan sampai titik darah penghabisan oleh saudara kita, muslimin di Suriah atas keganasan rezim syi’ah Nusairiyah, suatu agama paling berbahaya ketimbang Yahudi dan Nasrani sekalipun.
Oleh karena itu marilah kita do’akan saudara kita yang di Suriah agar tetap tegar dan tabah dalam mnghadapi cobaan berat ini. Mumpung mendo’akan kepada muslim belum dianggap teroris oleh PBB.
Shalawat dan salam marilah kita limpahkan kepada junjungan kita, nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa salam, keluarganya, para sahabatnya dan para pengikutnya yang setia hingga akhir zaman. Karena hanya merekalah yang tetap memelihara api penerang dunia secara konsisten.
الله اكبر 2X   لا اله الا اللهُ والله اكبر الله اكبر ولله الحمْدُ.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah ....
Hari Jum’at lusa  jutaan muslimin di seluruh dunia berkumpul di Arofah. Bayangkan, 14 juta umat Islam berkumpul!!! Mereka berdzikir, bertahmid dan istighfar.
Ya, memang; berdzikir, tahmid, tahlil (mengucapkan Laa Ilaahi Illah) dan istighfar adalah suatu amalan yang dianjurkan dan dilaksanakan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam. Tetapi bukankah Rasulullah pada haji wadda’nya beliau pernah menyampaikan risalah yang sekiranya belum tersampaikan? Atau ada hal-hal/persoalan yang perlu kembali disampaikan pada ummat agar umat kembali ingat?
Ya Salaam! Seandainya di saat  jutaan umat muslim sedunia berkumpul (wukuf) di Arofah tidak hanya memikirkan dirinya  sendiri dengan cara dzikir, tahmid, tahlil dan istighfar. Melainkan mereka berkumpul untuk membicarakan problema umat yang begitu kompleks. Seperti Palestin yang terus digerus tanahnya oleh Yahudi laknatullah ‘alaihim (tetapi sangat disayang pamannya), muslim Suriah yang dibantai rezim syi’ah Nusairiyah, muslim Indonesia yang rata-rata miskin sedangkan non muslimnya yang borjuis. Dan masih banyak lagi problema umata saat ini.
Sungguh bila saat  jutaan lebih umat Islam yang wukuf di Arofah kemarin mengadakan konferensi maka setidaknya sudah sekian persen problema umat tertangani!
الله اكبر 2X   لا اله الا اللهُ والله اكبر الله اكبر ولله الحمْدُ.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah ....
Sedangkan di pagi hari ini kita kaum muslimin; baik tua-muda, besar-kecil hingga para wanita yang sedang “berhalangan” pun dianajurkan hadir di lapangan ini untuk merayakan Idul Adha atau Idul Qurban. Kita sholat Id di tanah lapang ini hanya mengharapkan ridlo Allah Subhaanahu wa Ta’ala. Walaupun para jamaah wukufnya di Arofah kemarin Jum’at. Sebab memang wukuf di Arofah bukanlah tanda bahwa esok hari harus Idul Adha.
Sebab disyariatkannya Idul Fitri dan Idul Adha terjadi pada tahun ke-2 Hijriyah, sedangkan disyariatkannya haji; ada yang mengatakan terjadi pada tahun ke-6 Hijriyah, tapi ada juga yang mengatakan pada tahun ke-9 Hijriyah.
Lalu bagaimana mungkin syariat terakhir bisa “mempengaruhi” syariat yang terdahulu?.
الله اكبر 2X   لا اله الا اللهُ والله اكبر الله اكبر ولله الحمْدُ.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah ....
Ternyata ijma’ ulama menyebutkan bahwa Arofah adalah ismul makan; nama tempat. Sedangkan Arofaat; yang dimaksudkan adalah bahwa nabi Ibrahim ‘alaihi salam faham bahwa mimpinya tadi malam (saat itu, pen). Yaitu bahwa menyembelihnya beliau malam itu menunjukkan kalau itu adalah suatu perintah Allah Ta’ala, sehingga inilsh ysng disekapati para ulama; Arofah.
Untuk lebih jelasnya mari kita renungkan berikut ini:
Ada sebagian ulama yang berpendapat bahwa Idul Adha ditetapkan berdasarkan waktu wukuf di Arofah. Dengan perkataan lain wukuf itu sebagai standart penetapan Idul Adha.
Istinbath ini ditetapkan berdasar sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam tentang shaum Arofah dalam hadits Abu Qatadah al- Anshori.
Berdasarkan penamaan shaum ini dengan “shaum yaumu Arofah” maka dapat difahami bahwa shaum Arofah itu waktunya harus bersesuian dengan waktu wukuf di Arofah. Karena  Idul Adha didahului oleh shaum hari Arofah, maka Idul Adha pun ditetapkan berdasarkan wukuf di Arofah itu.
Hemat kami, istinbath demikian tidak tepat dilihat dari beberapa aspek:
1.      Latar belakang penamaan Arofah, Ibnu Abidin menjelaskan: “Arofah adalah ismul yaum (nama hari) dan Arofaat adalah ismul makan (nama tempat”. Hasyiyah Raddil Mukhtar, II/192. Menurut Imam ar-Raghib, al-Baghowi dan al-Kirmani; Arofah adalah nama hari ke-9 dari bulan Dzulhijjah.
Hal tersebut dinamakan Arofah berkaitan dengan peristiwa mimpinya nabi Ibrahim ‘alaihi salam yang diperintahkan untuk menyembelih anaknya. Pada pagi harinya, “Maka dia mengenal/mengetahui bahwa mimpi itu benar-benar (datang) dari Allah. Maka (hari itu) dinamakan hari Arofah.   Hasyiyah al-Bajrumi ‘alal Manhaj, IV/235.

2.      Keterangan di atas menunjukkan bahwa shaum Arofah mulai disyariatkan bersamaan dengan Idul Adha, yaitu tahun ke-2 Hijriyah. Keduanya disyariatkan setelah disyariatkannya shaum Ramadhan dan Idul Fitri pada tahun yang sama.
Adapun ibadah haji (termasuk di dalamnya wukuf  Arofah) mulai disyariatkan pada tahun ke-6 Hijriyah, sebagaimana dinyatakan oleh Jumhur ulama (lihat Fathul Baari, III/442).

الله اكبر 2X   لا اله الا اللهُ والله اكبر الله اكبر ولله الحمْدُ.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah ....
Keterangan-keterangan di atas menunjukkan bahwa:
a.       Waktu tasyri’ shaum Arofah dan Idul Adha lebih dahulu daripada tasyri’ wukuf di Arofah.
b.      Wukuf di Arofah bukan muqaddamah wujud shaum Arofah dan Idul Adha. Waalahu a’lam.
Karena itu, penamaan tersebut tidak dapat dijadikan dalil bahwa waktu shaum itu harus bersamaan dengan pelaksanaan wukuf di Arofah.
Untuk mempertegas bahwa waktu shaum itu tidak disyaratkan harus bersamaan wukuf di Arofah, maka kita kaji berdasarkan berdasarkan Tarikh Tasyri’ shaum Arofah dan Idul Adha.
3 Tarikh Tasyri’ shaum Arofah dan Idul Adha:
Dari Anas radliyallahu ‘anhu, ia berkata, ‘Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam datang ke Madinah, dan mereka mempunyai dua hari yang mereka bermain-main pada keduanya pada masa Jahiliyah. Maka beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah telah mengganti keduanya dengan yang lebih baik dari keduanya, yaitu hari Adha dan Hari Fitri”. HR.Ahmad dalam Musnad Imam Ahmad, XXIV/114, no 11568, Abu Daud dalam Sunan Abu Daud III/353, no 959. Redaksi di atas versi Ahmad.
Sehubungan dengan hadits di atas para ulama menerangkan bahwa Id yang pertama disyariatkan adalah Idul Fitri, kemudian Idul Adha. Keduanya disyariatkan pada tahun ke-2 Hijriyah. (Lihat Shubhul A’sya, II/444, Bulughul Amani, juz VI/119, Subulus Salam, I/60).
Dalam hal ini para ulama menerangkan:
Yaum Fitri dari Ramadhan (ditetapkan) sebagai Id bagi semua umat ini tiada lain sebagai isyarat karena banyaknya pembebasan (dari neraka), sebagaimana hari Nahar, yang dia itu Id Akbar, karena banyaknya pembebasan (dari neraka) pada hari Arofah sebelum Idul Adha. Karena tidak ada hari yang dipandang lebih banyak daripada hari itu (Arofah). Lihat, Hasyiyah al-Jumal, VI/203.

الله اكبر 2X   لا اله الا اللهُ والله اكبر الله اكبر ولله الحمْدُ.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah ....
Dengan pemaparan di atas diharapkan supaya kaum muslimin tidak ada lagi perselisihan tentang wukuf di Arofah dan Idul Adha. Sebab semuanya mempunyai hujjah/ dalil. Akan tetapi justru semakin meleburkan diri k dalam tali ukhuwah Islamiyah berdasar ilmu-ilmu Islam.
الله اكبر 2X   لا اله الا اللهُ والله اكبر الله اكبر ولله الحمْدُ.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah ....
Melihat kasus kekinian tang terjadi di dunia Islam; baik umat Islam yang dipaksa mengucapkan LAA ILAAHA ILLA BASYAR hingga larangan menyembelih sapi di masjid-masjid dengan alasan mengotori masjid hingga merubuhkan masjid dengan alasan ingin dibangun dengan yang lebih indah lagi, walau akhirnya sudah berbulan-bulan belum ada tanda-tanda akan kembali dibangun. Maka disini, di atas mimbar ini kami mengimbau agar kita bersabar dengan meneladani bapak Tauhid kita, Nabi Ibrahim ‘alaihi salam.
قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ إِلا قَوْلَ إِبْرَاهِيمَ لأبِيهِ لأسْتَغْفِرَنَّ لَكَ وَمَا أَمْلِكُ لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ شَيْءٍ رَبَّنَا عَلَيْكَ تَوَكَّلْنَا وَإِلَيْكَ أَنَبْنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ
Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: "Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran) mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. Kecuali perkataan Ibrahim kepada bapaknya: "Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatu pun dari kamu (siksaan) Allah". (Ibrahim berkata): "Ya Tuhan kami, hanya kepada Engkaulah kami bertawakal dan hanya kepada Engkaulah kami bertobat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali. Qs. Al Mumtahanah 4.
Ya, benar. Ayat di atas menunjukkan bahwa beliau ‘alaihi salam amat sangat tegas dalam masalah tauhid, tetapi bagaimanapun juga beliau amat sayang dan hormat terhadap orang tuanya. Hingga beliau berjanji untuk memintakan ampunan kepada Allah, walau akhirnya dilarang Allah, oleh sebab ayahnya masih kafir.
Dalam hal kesabaran; beliau adalah manusia paling sabar dalam menunaikan Tauhid Uluhiyah. Bayangkan saja; selama 125 tahun beliau berumah tangga, namun belum juga kunjung dikaruniai putra. Padahal pernikahan beliau diniatkan demi berlangsungnya risalah Islam ini, bukan karena syahwat atau bahkan (na’udzubillah) karena “kecelakaan”.
Segala ikhtiar dan upaya syar’i (yang tidak menabrak koridor syariat) beliau tempuh demi lahirnya si jabang bayi!
الله اكبر 2X   لا اله الا اللهُ والله اكبر الله اكبر ولله الحمْدُ.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah ....
Ternyata takdir berkata lain. Nabi Ibrahim ‘alaihi salam harus menikahi Hajar!
Alhamdulillah, ternyata dari rahim Hajar lahirlah bayi yang bakal meneruskan perjuangan Islam, yakni Ismail.
Namun apa daya, Ibrahim ‘alaihi salam kembali diuji kesabarannya. Yakni Allah Ta’ala memerinthkan agar Ibrahim memindahkan Hajar dan jabang bayinya yang masih merah, Ismail, ke tempat yang amat sangat jauh! Lembah Bakka. Lalu di belakang hari disebut dengan lembah Makkah.
Dan ternyata, lembah Bakka yang dimaksud adalah gurun pasir yang tak berpenghuni. Sejauh mata memandang hanya hamparan dan tumpukan pasir. Tidak ada satupun pohon untuk berteduh.
Setelah membuat tenda, menurunkan sisa bekal perjalanan, Ibrahim pun meninggalkan istri dan anak kandungnya yang sudah 125 tahun didambakannya.
Ya Salaam! Hati siapa yang tidak tersayat, ketika sang istri masih lemah, anaknya yang masih merah; ditinggalkan begitu saja!
Baru beberapa langkah Nabi Ibrahim ‘alaihi salam meninggalkan anak istrinya, sang istri memanggil namanya; “Wahai suamiku Ibrahim .... Wahai suamiku Ibrahim ... Wahai suamiku Ibrahim.” Namun Nabi Ibrahim masih saja terus berjalan, seakan tidak mendengar panggilan istrinya. Tetapi ketika sang istri mengatakan, “Wahai Ibrahim, suamiku, apakah ini perintah Allah?”.
Maka langkah Nabi Ibrahim pun berhenti, dengan suara berat beliau berkata, “Ya”. Tetapi Nabi Ibrahim sama sekali tidak menoleh ke arah istri dan anaknya. Kemudian segera Hajar menjawab, “Kalau ini perintah Allah maka kami tidak akan terlantar!”.
الله اكبر 2X   لا اله الا اللهُ والله اكبر الله اكبر ولله الحمْدُ.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah ....
Sungguh Hajar tidak akan mengeluarkan kalimat seperti di atas kecuali karena sudah terdidik terlebih dahulu oleh Ibrahim ‘alaihi salam. Sehingga  sang istripun sampai pada tingkat puncaknya Tauhid; tauhid Uluhiyah.Lalu tauhid Uluhiyah itu 'dititiskan' pada putranya Ismail.
Ya, karena Tauhid Uluhiyah adalah Tauhid amal. Kalau tauhid rububiyah hanya pengakuan saja, dan itu tidak ada gunanya bila tidak diamalkan. Sebab itulah iblis dilaknat Allah, sebagaimana firman-Nya:
قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ
Menjawab iblis: "Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah". Al A’raf 12.
Itulah iblis, dia mengakui bahwa Allah lah yang menciptakan (tauhid rububiyah) tetapi dia tidak mau melaksanakan perintah Allah. Hal itu disebabkan kesombongannya. Oleh karenanya marilah kita mengamalkan semua perintah Allah agar benar tauhid kita, sebab puncaknya tauhid ada pada uluhiyah!

الله اكبر 2X   لا اله الا اللهُ والله اكبر الله اكبر ولله الحمْدُ.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah ....
Setelah belasan tahun Nabi Ibrahim ‘alaihi salam kembali ke lembah Bakka untuk melihat istri dan putranya.
Dari sana kita bisa merasakan betapa seorang ayah yang berpuluh-puluh tahun mendambakan seorang putra sebagai penerus estafet perjuangannya. Begitu mellihat putra tercintanya sudah tumbuh dewasa, subhaanallah .... Betapa senangnya Nabi Ibrahim ‘alaihi salam.
Beliau bersyukur kepada Allah atas karunia yang  diberikan kepadanya.
Beliau bersyukur kepada Allah karena penantian yang lebih dari 125 tahun, kini sudah mulai memperlihatkan hasil ...
Beliau bersyukur kepada Allah karena putra yang dinantikan kini telah menjadi anak sholih ..
Beliau bersyukur kepada Allah karena, atas ketelatenan istrinya, akhirnya putra yang didambakannya kini benar-benar terwujud ....
الله اكبر 2X   لا اله الا اللهُ والله اكبر الله اكبر ولله الحمْدُ.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah ....
.
Ternyata rasa bersyukurnya kepada Allah itu ternyata masih perlu diuji kembali ....
Nabi Ibrahim ‘alaihi salam bermimpi bahwa beliau menyembelih putranya yang sudah sejak lama didambakannya. Sungguh ujian yang sangat berat!!!
Namun seberat apapun ujian itu, Nabi Ibrahim tegas ingin melaksanakannya, ini sebagai bukti cintanya pada Allah Ta’ala melebihi cintanya pada putranya!
Tetapi sebelum Nabi Ibrahim ‘alaihi salam melaksanakan perintah Allah, beliau coba menanyakan tentang wahyu ini kepada putranya yang akan dijadikan sebagai obyek pengorbanan (disembelih).
Dan tanpa dinyana, Ismail pun menjawab dengan mantap, “Duhai ayahku, laksanakanlah perintah Allah itu, pasti ayah akan dapati kalau putramu ini berserah diri juga kepada Allah (sabar atas perintahnya).
Subhaanallah ... Ya Salam!
Sungguh keluarga tauhid yang tidak hanya dibibir, tidak hanya berteriak-teriak mengatakan bahwa kami keluarga bertauhid! Melainkan ini adalah keluarga pelaksana dua tauhid (asma’ wa sifat dan rububiyah).
Inilah tauhid Uluhiyah! Inilah tauhid Uluhiyah! Yang dengannya Nabi Ibrahim menjadi manusia terkenal di seantero penduduk langit. Ya penduduk langit! Suatu penduduk bertaraf high class! Yaitu para malaikat, terutama malaikat Ridhwan, huurun-in (bidadari nan cantik jelita), burung-burung hijau pengantar penduduk surga yang ingin mengelilingi pohon Thuba. Suatu pohon surga yang bila dikelilingi selama 500 tahun belum genap satu putaran.
Oleh karenanya, sebagai ganti dari keteguhan hati Ibrahim, Ismail dan pandainya Hajar dalam mengarahkan putranya tersebut; maka Allah Ta’ala memberikan dua hadiah:
1.      Allah ganti Ismail yang akan disembelih dengan hewan domba. Yang kemudian Allah jadikan sebagai salah satu syariat dalam Islam; syariat qurban.
2.      Allah angkat derajat beliau dan keluarganya, yaitu Allah jadikan agar semua muslim mendo’akan beliau dengan disandingkan do’a untuk cucunya beliau terbaik di dunia, Muhammad shalallahu ‘alaihi wa salam. Yakni:
اللهمَّ صَلِّى عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَىَ اِبْرَاهِيْمِ وَ عَلَي آلِ اِبْرَاهِيْمِ ......  فِى الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

الله اكبر 2X   لا اله الا اللهُ والله اكبر الله اكبر ولله الحمْدُ.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah ....
Semoga Idul Adha kali ini akan menjadi moment bagi kita untuk menteladani Nabi Ibrahim ‘alaihi salam; yaitu menjadi pengamal tauhid ulihiyah.
Dan sebelum kita akhiri marilah kita tutup dengan do’a
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
اللهمَّ صَلِّى عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَىَ اِبْرَاهِيْمِ وَ عَلَي آلِ اِبْرَاهِيْمِ ......  فِى الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَارْحَمْنَا مَعَهٌمْ بِرَحْمَتِكَ يَا آرْحَمَ الرَاحِمِيْنَ
اللهمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ والْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ, الْأَحْيَاء مِنْهُمْ وَالْأمْوَاتِ. اِنَّكَ سَمِيْعٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَات.
اللهمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ والْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ, وَ اَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِهِمْ وَ انْصُرْهُمْ عَلَي عَدُوِّكَ وَ عَدُوِّهِمْ. ......
......
رَبَّنَاَ آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِيْنَا عَذَابَ النَّارِ. وِصَلَّى اللهُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَ اًصْحَابِهِ اَجْمَعِيْنَ. وَالحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ
وَالسَّلآمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

No comments:

Post a Comment