بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الله اكبر 2X لا اله الا اللهُ والله اكبر الله اكبر ولله
الحمْدُ.
الله اكبر
كبيراً, والحمدُ للهِ
كثيراَ, وصبحانَ اللهِ بكرةً واصيلا. لااله الااللهُ وحدَه, صدق وعده, ونصر عبده,
واعَزّجُندَه, وهزم الاحزاب وحده. لااله الااللهُ و الله اكبر, الله اكبر ولله
الحمد.
===
إن الحمد لله،
نحمده ونستعينه، ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا، ومن سيئات أعمالنا، من
يهده الله فلا مضل له ، ومن يضلل فلا هادي له .
وأشهد أن لا إله
إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمداً عبده ورسوله، صلى الله عليه وسلم، يقول
- تعالى - في محكم تنزيله : { يا أيها الذين آمنوا اتقوا الله حق تقاته ولا تموتن
إلا وأنتم مسلمون } [سورة آل عمران ، الآية :102 ] .
ويقول - جل ثناؤه
:- { يا أيها الناس اتقوا ربكم الذي خلقكم من نفس واحدة وخلق منها زوجها وبث منهما
رجالاً كثيرًا ونساء واتقوا الله الذي تساءلون به والأرحام إن الله كان عليكم
رقيباً } . [سورة النساء الآية : 1 ]
وقال عز وجل : { يا
أيها الذين آمنوا اتقوا الله وقولوا قولا سديداً . يصلح لكم أعمالكم ويغفر لكم
ذنوبكم ومن يطع الله ورسوله فقد فاز فوزاً عظيمًا } [سورة الأحزاب ، الآية 70 ] .
وبعد:
الله اكبر 2X لا اله الا اللهُ والله اكبر الله اكبر ولله
الحمْدُ.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah
....
Di
pagi hari yang cerah ini marilah kita meningkatkan takwa dan bersyukur kepada
Allah Subhaanahu wa Ta’ala, yang telah memberikan nikmat iman dan Islam. Suatu
nikmat paling berharga di dunia ini. Iman adalah nikmat yang hari ini sedang
dipertaruhkan sampai titik darah penghabisan oleh saudara kita, muslimin di
Suriah atas keganasan rezim syi’ah Nusairiyah, suatu agama paling berbahaya
ketimbang Yahudi dan Nasrani sekalipun.
Oleh
karena itu marilah kita do’akan saudara kita yang di Suriah agar tetap tegar
dan tabah dalam mnghadapi cobaan berat ini. Mumpung mendo’akan kepada muslim
belum dianggap teroris oleh PBB.
Shalawat
dan salam marilah kita limpahkan kepada junjungan kita, nabi Muhammad
shalallahu ‘alaihi wa salam, keluarganya, para sahabatnya dan para pengikutnya
yang setia hingga akhir zaman. Karena hanya merekalah yang tetap memelihara api
penerang dunia secara konsisten.
الله اكبر 2X لا اله الا اللهُ والله اكبر الله اكبر ولله
الحمْدُ.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah
....
Hari
Jum’at lusa jutaan muslimin di seluruh dunia berkumpul
di Arofah. Bayangkan, 14 juta umat Islam berkumpul!!! Mereka berdzikir,
bertahmid dan istighfar.
Ya,
memang; berdzikir, tahmid, tahlil (mengucapkan Laa Ilaahi Illah) dan istighfar
adalah suatu amalan yang dianjurkan dan dilaksanakan Rasulullah shalallahu
‘alaihi wa salam. Tetapi bukankah Rasulullah pada haji wadda’nya beliau pernah
menyampaikan risalah yang sekiranya belum tersampaikan? Atau ada
hal-hal/persoalan yang perlu kembali disampaikan pada ummat agar umat kembali
ingat?
Ya
Salaam! Seandainya di saat jutaan umat muslim sedunia berkumpul (wukuf) di
Arofah tidak hanya memikirkan dirinya
sendiri dengan cara dzikir, tahmid, tahlil dan istighfar. Melainkan
mereka berkumpul untuk membicarakan problema umat yang begitu kompleks. Seperti
Palestin yang terus digerus tanahnya oleh Yahudi laknatullah ‘alaihim (tetapi
sangat disayang pamannya), muslim Suriah yang dibantai rezim syi’ah Nusairiyah,
muslim Indonesia yang rata-rata miskin sedangkan non muslimnya yang borjuis.
Dan masih banyak lagi problema umata saat ini.
Sungguh
bila saat jutaan lebih umat Islam yang wukuf di Arofah kemarin mengadakan
konferensi maka setidaknya sudah sekian persen problema umat tertangani!
الله اكبر 2X لا اله الا اللهُ والله اكبر الله اكبر ولله
الحمْدُ.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah
....
Sedangkan
di pagi hari ini kita kaum muslimin; baik tua-muda, besar-kecil hingga para
wanita yang sedang “berhalangan” pun dianajurkan hadir di lapangan ini untuk
merayakan Idul Adha atau Idul Qurban. Kita sholat Id di tanah lapang ini hanya
mengharapkan ridlo Allah Subhaanahu wa Ta’ala. Walaupun para jamaah wukufnya di
Arofah kemarin Jum’at. Sebab memang wukuf di Arofah bukanlah tanda bahwa esok
hari harus Idul Adha.
Sebab
disyariatkannya Idul Fitri dan Idul Adha terjadi pada tahun ke-2 Hijriyah,
sedangkan disyariatkannya haji; ada yang mengatakan terjadi pada tahun ke-6
Hijriyah, tapi ada juga yang mengatakan pada tahun ke-9 Hijriyah.
Lalu
bagaimana mungkin syariat terakhir bisa “mempengaruhi” syariat yang terdahulu?.
الله اكبر 2X لا اله الا اللهُ والله اكبر الله اكبر ولله
الحمْدُ.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah
....
Ternyata
ijma’ ulama menyebutkan bahwa Arofah adalah ismul makan; nama tempat. Sedangkan
Arofaat; yang dimaksudkan adalah bahwa nabi Ibrahim ‘alaihi salam faham bahwa
mimpinya tadi malam (saat itu, pen). Yaitu bahwa menyembelihnya beliau malam
itu menunjukkan kalau itu adalah suatu perintah Allah Ta’ala, sehingga inilsh
ysng disekapati para ulama; Arofah.
Untuk
lebih jelasnya mari kita renungkan berikut ini:
Ada sebagian ulama yang berpendapat bahwa Idul Adha ditetapkan berdasarkan
waktu wukuf di Arofah. Dengan perkataan lain wukuf itu sebagai standart
penetapan Idul Adha.
Istinbath ini ditetapkan berdasar sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam
tentang shaum Arofah dalam hadits Abu Qatadah al- Anshori.
Berdasarkan penamaan shaum ini dengan “shaum yaumu Arofah” maka dapat
difahami bahwa shaum Arofah itu waktunya harus bersesuian dengan waktu wukuf di
Arofah. Karena Idul Adha didahului oleh
shaum hari Arofah, maka Idul Adha pun ditetapkan berdasarkan wukuf di Arofah
itu.
Hemat kami, istinbath demikian tidak tepat dilihat dari beberapa aspek:
1. Latar belakang penamaan
Arofah, Ibnu Abidin menjelaskan: “Arofah adalah ismul yaum (nama hari) dan
Arofaat adalah ismul makan (nama tempat”. Hasyiyah Raddil Mukhtar, II/192.
Menurut Imam ar-Raghib, al-Baghowi dan al-Kirmani; Arofah adalah nama hari ke-9
dari bulan Dzulhijjah.
Hal tersebut dinamakan Arofah berkaitan dengan peristiwa mimpinya nabi
Ibrahim ‘alaihi salam yang diperintahkan untuk menyembelih anaknya. Pada pagi
harinya, “Maka dia mengenal/mengetahui bahwa mimpi itu benar-benar (datang)
dari Allah. Maka (hari itu) dinamakan hari Arofah.
Hasyiyah al-Bajrumi ‘alal Manhaj,
IV/235.
2. Keterangan di atas
menunjukkan bahwa shaum Arofah mulai disyariatkan bersamaan dengan Idul Adha,
yaitu tahun ke-2 Hijriyah. Keduanya disyariatkan setelah disyariatkannya shaum
Ramadhan dan Idul Fitri pada tahun yang sama.
Adapun ibadah haji (termasuk di dalamnya wukuf Arofah) mulai disyariatkan pada tahun ke-6
Hijriyah, sebagaimana dinyatakan oleh Jumhur ulama (lihat Fathul Baari,
III/442).
الله اكبر 2X لا اله الا اللهُ والله اكبر الله اكبر ولله
الحمْدُ.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah
....
Keterangan-keterangan di atas menunjukkan bahwa:
a. Waktu tasyri’ shaum
Arofah dan Idul Adha lebih dahulu daripada tasyri’ wukuf di Arofah.
b. Wukuf di Arofah bukan
muqaddamah wujud shaum Arofah dan Idul Adha. Waalahu a’lam.
Karena itu, penamaan tersebut tidak dapat dijadikan dalil bahwa waktu shaum
itu harus bersamaan dengan pelaksanaan wukuf di Arofah.
Untuk mempertegas bahwa waktu shaum itu tidak disyaratkan harus bersamaan
wukuf di Arofah, maka kita kaji berdasarkan berdasarkan Tarikh Tasyri’ shaum
Arofah dan Idul Adha.
3 Tarikh Tasyri’ shaum Arofah dan Idul Adha:
Dari Anas radliyallahu ‘anhu, ia berkata, ‘Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa
salam datang ke Madinah, dan mereka mempunyai dua hari yang mereka bermain-main
pada keduanya pada masa Jahiliyah. Maka beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah
telah mengganti keduanya dengan yang lebih baik dari keduanya, yaitu hari Adha
dan Hari Fitri”. HR.Ahmad dalam Musnad Imam Ahmad, XXIV/114, no 11568,
Abu Daud dalam Sunan Abu Daud III/353, no 959. Redaksi di atas versi
Ahmad.
Sehubungan dengan hadits di atas para ulama menerangkan bahwa Id yang
pertama disyariatkan adalah Idul Fitri, kemudian Idul Adha. Keduanya
disyariatkan pada tahun ke-2 Hijriyah. (Lihat Shubhul A’sya, II/444, Bulughul
Amani, juz VI/119, Subulus Salam, I/60).
Dalam hal ini para ulama menerangkan:
Yaum Fitri dari Ramadhan (ditetapkan) sebagai Id bagi semua umat ini tiada
lain sebagai isyarat karena banyaknya pembebasan (dari neraka), sebagaimana
hari Nahar, yang dia itu Id Akbar, karena banyaknya pembebasan (dari neraka)
pada hari Arofah sebelum Idul Adha. Karena tidak ada hari yang dipandang lebih
banyak daripada hari itu (Arofah). Lihat, Hasyiyah al-Jumal, VI/203.
الله اكبر 2X لا اله الا اللهُ والله اكبر الله اكبر ولله
الحمْدُ.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah
....
Dengan
pemaparan di atas diharapkan supaya kaum muslimin tidak ada lagi perselisihan
tentang wukuf di Arofah dan Idul Adha. Sebab semuanya mempunyai hujjah/ dalil.
Akan tetapi justru semakin meleburkan diri k dalam tali ukhuwah Islamiyah
berdasar ilmu-ilmu Islam.
الله اكبر 2X لا اله الا اللهُ والله اكبر الله اكبر ولله
الحمْدُ.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah
....
Melihat
kasus kekinian tang terjadi di dunia Islam; baik umat Islam yang dipaksa
mengucapkan LAA ILAAHA ILLA BASYAR hingga larangan menyembelih sapi di
masjid-masjid dengan alasan mengotori masjid hingga merubuhkan masjid dengan
alasan ingin dibangun dengan yang lebih indah lagi, walau akhirnya sudah
berbulan-bulan belum ada tanda-tanda akan kembali dibangun. Maka disini, di
atas mimbar ini kami mengimbau agar kita bersabar dengan meneladani bapak
Tauhid kita, Nabi Ibrahim ‘alaihi salam.
قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ
فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ
مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا
بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا
بِاللَّهِ وَحْدَهُ إِلا قَوْلَ إِبْرَاهِيمَ لأبِيهِ لأسْتَغْفِرَنَّ لَكَ وَمَا
أَمْلِكُ لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ شَيْءٍ رَبَّنَا عَلَيْكَ تَوَكَّلْنَا
وَإِلَيْكَ أَنَبْنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ
Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim
dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum
mereka: "Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu
sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran) mu dan telah nyata antara kami
dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman
kepada Allah saja. Kecuali perkataan Ibrahim kepada bapaknya:
"Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat
menolak sesuatu pun dari kamu (siksaan) Allah". (Ibrahim berkata):
"Ya Tuhan kami, hanya kepada Engkaulah kami bertawakal dan hanya kepada
Engkaulah kami bertobat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali. Qs. Al Mumtahanah 4.
Ya, benar. Ayat di atas menunjukkan bahwa beliau ‘alaihi salam
amat sangat tegas dalam masalah tauhid, tetapi bagaimanapun juga beliau amat
sayang dan hormat terhadap orang tuanya. Hingga beliau berjanji untuk
memintakan ampunan kepada Allah, walau akhirnya dilarang Allah, oleh sebab
ayahnya masih kafir.
Dalam hal kesabaran; beliau adalah manusia paling sabar dalam
menunaikan Tauhid Uluhiyah. Bayangkan saja; selama 125 tahun beliau berumah
tangga, namun belum juga kunjung dikaruniai putra. Padahal pernikahan beliau diniatkan
demi berlangsungnya risalah Islam ini, bukan karena syahwat atau bahkan
(na’udzubillah) karena “kecelakaan”.
Segala ikhtiar dan upaya syar’i (yang tidak menabrak koridor
syariat) beliau tempuh demi lahirnya si jabang bayi!
الله اكبر 2X لا اله الا اللهُ والله اكبر الله اكبر ولله
الحمْدُ.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah
....
Ternyata takdir berkata lain. Nabi Ibrahim ‘alaihi salam harus
menikahi Hajar!
Alhamdulillah, ternyata dari rahim Hajar lahirlah bayi yang bakal
meneruskan perjuangan Islam, yakni Ismail.
Namun apa daya, Ibrahim ‘alaihi salam kembali diuji kesabarannya.
Yakni Allah Ta’ala memerinthkan agar Ibrahim memindahkan Hajar dan jabang
bayinya yang masih merah, Ismail, ke tempat yang amat sangat jauh! Lembah
Bakka. Lalu di belakang hari disebut dengan lembah Makkah.
Dan ternyata, lembah Bakka yang dimaksud adalah gurun pasir yang
tak berpenghuni. Sejauh mata memandang hanya hamparan dan tumpukan pasir. Tidak
ada satupun pohon untuk berteduh.
Setelah membuat tenda, menurunkan sisa bekal perjalanan, Ibrahim
pun meninggalkan istri dan anak kandungnya yang sudah 125 tahun didambakannya.
Ya Salaam! Hati siapa yang tidak tersayat, ketika sang istri masih
lemah, anaknya yang masih merah; ditinggalkan begitu saja!
Baru beberapa langkah Nabi Ibrahim ‘alaihi salam meninggalkan anak
istrinya, sang istri memanggil namanya; “Wahai suamiku Ibrahim .... Wahai
suamiku Ibrahim ... Wahai suamiku Ibrahim.” Namun Nabi Ibrahim masih saja terus
berjalan, seakan tidak mendengar panggilan istrinya. Tetapi ketika sang istri
mengatakan, “Wahai Ibrahim, suamiku, apakah ini perintah Allah?”.
Maka langkah Nabi Ibrahim pun berhenti, dengan suara berat beliau
berkata, “Ya”. Tetapi Nabi Ibrahim sama sekali tidak menoleh ke arah istri dan
anaknya. Kemudian segera Hajar menjawab, “Kalau ini perintah Allah maka kami
tidak akan terlantar!”.
الله اكبر 2X لا اله الا اللهُ والله اكبر الله اكبر ولله
الحمْدُ.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah
....
Sungguh Hajar tidak akan mengeluarkan kalimat seperti di atas
kecuali karena sudah terdidik terlebih dahulu oleh Ibrahim ‘alaihi salam.
Sehingga sang istripun sampai pada
tingkat puncaknya Tauhid; tauhid Uluhiyah.Lalu tauhid Uluhiyah itu 'dititiskan' pada putranya Ismail.
Ya, karena Tauhid Uluhiyah adalah Tauhid amal. Kalau tauhid
rububiyah hanya pengakuan saja, dan itu tidak ada gunanya bila tidak diamalkan.
Sebab itulah iblis dilaknat Allah, sebagaimana firman-Nya:
قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ
طِينٍ
Menjawab iblis: "Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan
saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah". Al A’raf 12.
Itulah iblis, dia mengakui bahwa Allah lah yang menciptakan
(tauhid rububiyah) tetapi dia tidak mau melaksanakan perintah Allah. Hal itu
disebabkan kesombongannya. Oleh karenanya marilah kita mengamalkan semua
perintah Allah agar benar tauhid kita, sebab puncaknya tauhid ada pada
uluhiyah!
الله اكبر 2X لا اله الا اللهُ والله اكبر الله اكبر ولله
الحمْدُ.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah
....
Setelah belasan tahun Nabi Ibrahim ‘alaihi salam kembali ke lembah
Bakka untuk melihat istri dan putranya.
Dari sana kita bisa merasakan betapa seorang ayah yang
berpuluh-puluh tahun mendambakan seorang putra sebagai penerus estafet
perjuangannya. Begitu mellihat putra tercintanya sudah tumbuh dewasa,
subhaanallah .... Betapa senangnya Nabi Ibrahim ‘alaihi salam.
Beliau bersyukur kepada Allah atas karunia yang diberikan kepadanya.
Beliau bersyukur kepada Allah karena penantian yang lebih dari 125
tahun, kini sudah mulai memperlihatkan hasil ...
Beliau bersyukur kepada Allah karena putra yang dinantikan kini
telah menjadi anak sholih ..
Beliau bersyukur kepada Allah karena, atas ketelatenan istrinya,
akhirnya putra yang didambakannya kini benar-benar terwujud ....
الله اكبر 2X لا اله الا اللهُ والله اكبر الله اكبر ولله
الحمْدُ.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah
....
.
Ternyata rasa bersyukurnya kepada Allah itu ternyata masih perlu
diuji kembali ....
Nabi Ibrahim ‘alaihi salam bermimpi bahwa beliau menyembelih putranya
yang sudah sejak lama didambakannya. Sungguh ujian yang sangat berat!!!
Namun seberat apapun ujian itu, Nabi Ibrahim tegas ingin
melaksanakannya, ini sebagai bukti cintanya pada Allah Ta’ala melebihi cintanya
pada putranya!
Tetapi sebelum Nabi Ibrahim ‘alaihi salam melaksanakan perintah
Allah, beliau coba menanyakan tentang wahyu ini kepada putranya yang akan
dijadikan sebagai obyek pengorbanan (disembelih).
Dan tanpa dinyana, Ismail pun menjawab dengan mantap, “Duhai
ayahku, laksanakanlah perintah Allah itu, pasti ayah akan dapati kalau putramu
ini berserah diri juga kepada Allah (sabar atas perintahnya).
Subhaanallah ... Ya Salam!
Sungguh keluarga tauhid yang tidak hanya dibibir, tidak hanya
berteriak-teriak mengatakan bahwa kami keluarga bertauhid! Melainkan ini adalah
keluarga pelaksana dua tauhid (asma’ wa sifat dan rububiyah).
Inilah tauhid Uluhiyah! Inilah tauhid Uluhiyah! Yang dengannya
Nabi Ibrahim menjadi manusia terkenal di seantero penduduk langit. Ya penduduk
langit! Suatu penduduk bertaraf high class! Yaitu para malaikat, terutama
malaikat Ridhwan, huurun-in (bidadari nan cantik jelita), burung-burung hijau
pengantar penduduk surga yang ingin mengelilingi pohon Thuba. Suatu pohon surga
yang bila dikelilingi selama 500 tahun belum genap satu putaran.
Oleh karenanya, sebagai ganti dari keteguhan hati Ibrahim, Ismail
dan pandainya Hajar dalam mengarahkan putranya tersebut; maka Allah Ta’ala
memberikan dua hadiah:
1.
Allah ganti Ismail yang akan disembelih dengan hewan domba. Yang
kemudian Allah jadikan sebagai salah satu syariat dalam Islam; syariat qurban.
2.
Allah angkat derajat beliau dan keluarganya, yaitu Allah jadikan
agar semua muslim mendo’akan beliau dengan disandingkan do’a untuk cucunya
beliau terbaik di dunia, Muhammad shalallahu ‘alaihi wa salam. Yakni:
اللهمَّ صَلِّى عَلَى
مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَىَ اِبْرَاهِيْمِ وَ عَلَي
آلِ اِبْرَاهِيْمِ ...... فِى
الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
الله اكبر 2X لا اله الا اللهُ والله اكبر الله اكبر ولله
الحمْدُ.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah
....
Semoga Idul Adha kali ini akan menjadi moment bagi kita untuk
menteladani Nabi Ibrahim ‘alaihi salam; yaitu menjadi pengamal tauhid ulihiyah.
Dan sebelum kita akhiri marilah kita tutup dengan do’a
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
اللهمَّ صَلِّى عَلَى
مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَىَ اِبْرَاهِيْمِ وَ عَلَي
آلِ اِبْرَاهِيْمِ ...... فِى
الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَارْحَمْنَا مَعَهٌمْ بِرَحْمَتِكَ
يَا آرْحَمَ الرَاحِمِيْنَ
اللهمَّ اغْفِرْ
لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ والْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ, الْأَحْيَاء مِنْهُمْ
وَالْأمْوَاتِ. اِنَّكَ سَمِيْعٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَات.
اللهمَّ اغْفِرْ
لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ والْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ, وَ اَلِّفْ بَيْنَ
قُلُوْبِهِمْ وَ انْصُرْهُمْ عَلَي عَدُوِّكَ وَ عَدُوِّهِمْ. ......
......
رَبَّنَاَ آتِنَا فِي الدُّنْيَا
حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِيْنَا عَذَابَ النَّارِ. وِصَلَّى اللهُ
عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَ اًصْحَابِهِ اَجْمَعِيْنَ. وَالحَمْدُ للهِ
رَبِّ الْعَالَمِيْنَ
وَالسَّلآمُ عَلَيْكُمْ
وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
No comments:
Post a Comment