Begitu
Hajar tahu kalau ternyata ada air di bawah kaki Ismail kecil, maka Hajar pun
langsung berupaya dengan daya upayanya agar air tersebut berkumpul di situ,
tidak melebar ke mana-mana. Inilah bentuk ikhtiar yang dilakukan Hajar untuk
mengumpulkan air guna memenuhi kebutuhan hidupnya selama menghuni di gurun
pasir ganas ini.
Namun tidak lupa bahwa Hajar tetap saja meyakini seyakin-yakinnya
bahwa air zam-zam itu adalah karunia dari Allah. Maka bertambah yakinlah Hajar
kepada Allah bahwa Allah adalah Maha Pemberi Rezeki kepada siapa saja yang Dia
kehendaki. Dan itu makin menambah keimanan Hajar pada Allah Subhaanahu wa
Ta’ala.
-000-
Singkat cerita; setelah sekian lama Nabi Ibrahim meningggalkan
Hajar dan Ismail, maka datanglah Ibrahim ke lembah Bakka itu untuk menemui
keluarganya yang ada di Makkah.
Sesampainya di Makkah Nabi Ibrahim sempat bingung sejenak, sebab
lembah Bakka dahulu yang cuma terhampar gurun pasir saja sejauh mata memandang
kini sudah menjadi perkampungan atau bahkan menjadi kota kecil.
Setelah bertemu istri dan anaknya, betapa bahagianya Nabi Ibrahim.
Sebab Ismail sudah tumbuh besar sesuai harapannya yang kelak akan meneruskan
estafet perjuangannya menyampaikan risalah Islam.
Namun besar tumbuh dan menjadi anak shalih Ismail ini tentunya tidak
lepas dari peran besar seibu, Hajar.
Tetapi kegembiraan Nabi Ibrahim itu tidak begitu lama. Sebab beliau
sekeluarga harus menerima ujian maha berat yang harus dilaluinya. Yaitu (dalam
mimpinya) beliau menyembelih putra harapannya dengan tangannya sendiri.
Lalu Nabi Ibrahim menemui putranya, Ismail, ingin mengetahui reaksi
apa yang diambil; menerimakah atau menolak?
Hal itu Allah abadikan dalam Qur’an sebagai berikut:
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ
قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ
مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ
اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ
Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup)
berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku sesungguhnya
aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa
pendapatmu!" Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan
kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang
sabar".
Qs. Ash Shaffaat 102.
Duhai manusia beriman, seperti inilah potret keluarga
muslim beriman. Seorang suami yang sanggup menjadi imam sekaligus pendidik pada
para istrinya, hingga kelak sang istrilah yang akan mendidik putra-putrinya
tatkala dia jauh dari suaminya.
Wallahu a’lam.
No comments:
Post a Comment