Sunday, October 12, 2014

BELAJAR DARI NABI IBRAHIM (edisi kedua –selesai-)


Begitu Hajar tahu kalau ternyata ada air di bawah kaki Ismail kecil, maka Hajar pun langsung berupaya dengan daya upayanya agar air tersebut berkumpul di situ, tidak melebar ke mana-mana. Inilah bentuk ikhtiar yang dilakukan Hajar untuk mengumpulkan air guna memenuhi kebutuhan hidupnya selama menghuni di gurun pasir ganas ini.
Namun tidak lupa bahwa Hajar tetap saja meyakini seyakin-yakinnya bahwa air zam-zam itu adalah karunia dari Allah. Maka bertambah yakinlah Hajar kepada Allah bahwa Allah adalah Maha Pemberi Rezeki kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Dan itu makin menambah keimanan Hajar pada Allah Subhaanahu wa Ta’ala.
-000-
Singkat cerita; setelah sekian lama Nabi Ibrahim meningggalkan Hajar dan Ismail, maka datanglah Ibrahim ke lembah Bakka itu untuk menemui keluarganya yang ada di Makkah.
Sesampainya di Makkah Nabi Ibrahim sempat bingung sejenak, sebab lembah Bakka dahulu yang cuma terhampar gurun pasir saja sejauh mata memandang kini sudah menjadi perkampungan atau bahkan menjadi kota  kecil.
Setelah bertemu istri dan anaknya, betapa bahagianya Nabi Ibrahim. Sebab Ismail sudah tumbuh besar sesuai harapannya yang kelak akan meneruskan estafet perjuangannya menyampaikan risalah Islam.
Namun besar tumbuh dan menjadi anak shalih Ismail ini tentunya tidak lepas dari peran besar seibu, Hajar.
Tetapi kegembiraan Nabi Ibrahim itu tidak begitu lama. Sebab beliau sekeluarga harus menerima ujian maha berat yang harus dilaluinya. Yaitu (dalam mimpinya) beliau menyembelih putra harapannya dengan tangannya sendiri.
Lalu Nabi Ibrahim menemui putranya, Ismail, ingin mengetahui reaksi apa yang diambil; menerimakah atau menolak?
Hal itu Allah abadikan dalam Qur’an sebagai berikut:
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ
Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar". Qs. Ash Shaffaat 102.
Duhai manusia beriman, seperti inilah potret keluarga muslim beriman. Seorang suami yang sanggup menjadi imam sekaligus pendidik pada para istrinya, hingga kelak sang istrilah yang akan mendidik putra-putrinya tatkala dia jauh dari suaminya.
Wallahu a’lam.

No comments:

Post a Comment