Akhir-akhir muncul fenomena
istilah baru dalam kosakata bahasa Indonesia, JILBOB. Ya memang unik
kedengarannya. Sebab yang sering didengar telinga adalah jilbab bukan jilbob.
Jadi? Ya ... istilah jilbob setelah para jilbaber risih
dengan fenomena wanita yang menggunakan jilbab tetapi tidak sesuai standart
syariah namun justru “terkesan” merusak citra jilbab yang justru disyariatkan
Allah Ta’ala. Yaitu bentuk jilbab yang mini, dengan tambahan aksesoris di sana
sini plus (maaf) malah justru menonjolkan buah dadanya.
Padahal standartnya adalah
menutup kepala hingga ke dadanya tertutup. Kainnya pun harus tebal agar tidak
membayang anggota tubuhnya. Hingga tidak ada lagi celah syaitan untuk menggoda
manusia berbuat fakhsya’ (keji) dan munkar. Sebagaimana fiman Allah Ta’ala:
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ
لأزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلابِيبِهِنَّ
ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا
رَحِيمًا.
Hai Nabi katakanlah kepada
istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin:
"Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka".
Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka
tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang. Qs. Al
Ahzab 59.
Oleh karena itu pikirkanlah, mau
mencari ridlo Allah ataukah mencari modenya (jilbob)?
No comments:
Post a Comment